Pemerintah Akui Salah Gunakan Istilah New Normal Dalam Kondisi Pandemi

NASIONAL- 12 Juli 2020 | 07:40:28 WIB | Dubaca : 190
Pemerintah Akui Salah Gunakan Istilah New Normal Dalam Kondisi Pandemi

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan sejak awal pemerintah telah salah memilih diksi new normal saat pandemi virus Korona. Sehingga, banyak masyarakat yang binggung dengan diksi new normal itu.

Akhirnya pemerintah menggantinya diksi new normal dengan adaptasi kebiasaan baru. "Termasuk diksi new normal dari awal diksi itu salah, dan segera diubah. New normal diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru," ujar Yurianto saat peluncuran buku Saleh Daulay di Jakarta, Jumat (11/7).

Walaupun adanya diksi yang salah, kata Yurianto menambahkan pemerintah tetap melakukan sosialisasi mengenai adaptasi kebiasaan baru kepada masyarakat. "Tidak pernah berhenti gaung new normal di mana-mana. Dikedepankan bukan new-nya. Tapi normal-nya," katanya.

Yuri menambahkan ‎walaupun masyarakat binggung dengan istilah new normal tersebut. Namun pemerintah akan terus memperbaikinya dengan mengganti istilah adaptasi kebiasaan baru.

"Kami optimis masyarakat binggung. Tapi kami toidak pernah pesimis (untuk terus melakukan sosialisasi adaptasi kebiasaan baru-Red)," ungkapnya.

Diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan masyarakat untuk bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru di tengah pandemi virus Korona atau Covid-19 ini.

Menurut Jokowi, selama belum adanya vaksin dari Covid-19 ini, maka masyarakat akan berdampingan dengan virus tersebut. Namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat supaya tidak tertular Covid-19.

"Kita harus beradaptasi dengan Covid-19, adaptasi kebiasaan baru. Harus kita mulai dengan kebiasaan baru yang sesuai dengan protokol kesehatan. Sehingga masyarakat produktif tapi juga aman dari penularan," ujar Jokowi.

Namun demikian Jokowi menuturkan walaupun masyarakat hidup berdampingan dengan virus Korona karena belum ditemukan vaksin. Tapi masyarakat tidak boleh menyerah untuk melawan virus tersebut.

Caranya dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan. "Adaptasi kebiasaan baru ini bukan berarti menyerah apalagi kalah. Tidak itu," katanya.(dn)