Jokowi Cuci Tangan Hadapi Pandemi Corona, Salahkan Para Menterinya

FOKUS PERISTIWA- 30 Juni 2020 | 13:10:56 WIB | Dubaca : 150
Jokowi Cuci Tangan Hadapi Pandemi Corona, Salahkan Para Menterinya

Video rapat kabinet paripurna yang dihelat secara tertutup di mana Jokowi marah-marah kepada para pembantunya dirilis pada 28 Juni 2020.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden RI Bey Triadi Machmudin mengatakan video itu sengaja dirilis biar diketahui publik secara luas.

Dalam video Jokowi menyalahkan para menteri dan pimpinan lembaga negara yang dianggap tidak optimal menanggulangi krisis akibat wabah covid-19. Mereka dipandang tak punya sense of crisis.

Di video itu sejak awal Jokowi menunjukkan wajah gusar. Nada bicaranya berulang kali terdengar meninggi. Dia mengatakan, sejak tiga bulan ke belakang hingga hari ini adalah masa krisis akibat pandemi corona.

Namun, ia melihat masih ada menteri yang bekerja biasa-biasa saja, seperti situasi sedang normal. Ia menuduh menteri tak punya perasaan. Maka ia mengancam akan mengambil tindakan yang tidak biasa. Misalnya membubarkan lembaga negara atau melakukan reshuffle cabinet.

Ini dapat ia lakukan atas nama menyelamatkan nasib 267 juta rakyat meskipun harus mengorbankan reputasi politiknya.

Terkait karakter Jokowi, hal itu tidak mengagetkan. Ia memang terbiasa melemparkan tanggung jawab pada pihak lain setiap kali menghadapi persoalan yang menyudutkan dirinya.
Video itu dirilis sepuluh hari setelah rapat kabinet itu setelah menimbang hal ini dapat menguntungkannya secara politik.

Sebagaimana diketahui, krisis corona yang ikut menghantam sektor sosial dan ekonomi telah menggerus legitimasi politiknya.

Pendukungnya mulai memperlihatkan kekecewaan pada pujaan hatinya.
Komunitas internasional pun mengritik ketidakbecusanya menanggulangi corona.

Dengan pikiran sederhananya, dia ingin masyarakat domestik dan internasional melihat semua kegagalan rezim sebagai kesalahan para pembantunya.

Dia ingin dilihat sebagai orang yang bekerja serius dan sangat prihatin pada penderitaan rakyat.

Padahal semua orang tahu bahwa sejak awal ia meremehkan ancaman covid-19, bahkan menyembunyikan informasi tentang bahaya virus ini selama hampir tiga bulan sejak pertama kalinya merebak di Wuhan, Cina.

Bahkan, dia seperti menikmati ketika para menterinya mengolok-olok corona.

Ada yang mengatakan covid-19 bisa sembuh sendiri, dapat diobati dengan jamu atau doa, dan bahwa Indonesia satu-satunya negara besar di Asia yang tidak terpapar corona.

Hal ini menunjukkan Jokowi tidak serius menghadapi corona dan tidak paham tentang keseluruhan masalah pandemi ini.
Ketidakfahaman Jokowi dapat dilihat ketika pada awal Mei ia meminta para pembantunya sudah harus menurunkan tingkat penularan covid-19, bagaimanapun caranya.

Perintah ini tidak masuk akal ketika rezim tidak melakukan penanggulangan secara profesional dan saintifik.

Jadi, kesalahan ada di pihak Jokowi sendiri, bukan menteri-menterinya.

Seandainya seluruh menteri diganti dengan orang-orang super pun, keadaan tidak akan membaik kalau pemimpinnya masih Jokowi.

Para menteri tidak dapat bertindak semaunya tanpa visi/misi dari Presiden, padahal Jokowi tidak punya visi/misi karena kapasitas intelektual yang tidak cukup.

Keprihatinan Jokowi pada nasib 267 juta jiwa sebagaimana diungkapkan dalam video tak dapat dipercaya.
Kita lihat berbagai beleid Jokowi, bahkan di tengah wabah corona, tidak berpihak pada rakyat.

Semua kebijakan ekonominya berorientasi pada kepentingan pemodal dan kaum oligark, seperti RUU Omnibus Law, RUU Minerba, revisi UU KPK, Perppu No 1 Tahun 2020, proyek mercusuar pemindahan ibu kota negara, dan bansos yang amburadul serta tidak menyeluruh.

Belum lagi, kenaikan iuran BPJS, listrik, dan harga BBM.
Aktivitas Jokowi membagi-bagi sembako di jalanan, di depan istana, masuk keluar gang dengan mengundang wartawan, tak lebih dari upaya pencitraan.

Diedarkannya video di mana Jokowi ditampilkan seolah-olah orang yang peduli pada rakyat dan kecewa pada para menteri karena corona masih mewabah harus dilihat sebagai pencitraan, juga sekaligus upaya konsolidasi kekuasaan.

Ia ingin dilihat sebagai pemimpin kerakyatan yang menjadi korban ketidakbecusan para pembantunya.

Tujuannya: melanggengkan kekuasaan setelah tirai citra kerakyatannya mulai mengalami erosi.

Bagaimanapun, kini banyak orang yang ingin dia turun demi menyelamatkan bangsa secara keseluruhan.
Orang mulai menyadari bahwa Jokowi-lah episentrum dari semua permasalahan bangsa hari ini yang sulit dicari jalan keluarnya.

Kalau dipandang secara saksama, video itu justru menunjukkan ketidakmampuannya memimpin bangsa ini.

Pemimpin sejati seharusnya mengambil tanggung jawab ke pundaknya sekali pun seandainya para pembantunya yang membuat kesalahan, bukan memindahkan tanggung jawab ke pundak pembantunya.

Orang seperti ini tidak layak menjadi pemimpin, apalagi memimpin bangsa besar ini. (tw)