Chloroquine, Sempat Diborong Pemerintah Indonesia untuk Covid-19 yang Saat ini Dilarang di AS

MEGAPOLITAN- 19 Juni 2020 | 03:30:38 WIB | Dubaca : 177
Chloroquine, Sempat Diborong Pemerintah Indonesia untuk Covid-19 yang Saat ini Dilarang di AS

Chloroquine sempat menjadi salah satu obat yang dicari masyarakat di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Obat tersebut dikatakan ampuh menyembuhkan penyakit virus corona meskipun belum teruji secara klinis.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun memborong jutaan butir obat tersebut untuk menangani pasien virus corona. Selain chloroquine, Jokowi juga membali obat jenis avigan.

"Pertama, avigan, dalam proses 2 juta. Kedua, chloroquine kita telah siap 3 juta," kata Jokowi, 20 Maret lalu.

Jokowi mengatakan chloroquine ampuh menyembuhkan pasien Covid-19 di beberapa negara. Hal tersebut menjadi bahan pertimbangan dirinya memborong obat-obatan tersebut.

Namun, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto meminta warga agar tak sembarangan membeli dan mengonsumsi chloroquine.

Yurianto menyebut obat tersebut adalah jenis obat keras. Ia memperingatkan warga tak sembarangan membeli, menyimpan, bahkan mengonsumsi sendiri obat itu tanpa resep dan pengawasan dokter.

"Ini obat keras, penggunaan harus atas resep dokter. Ini penting," ujar Yurianto, 23 Maret lalu.

Namun, selang dua bulan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghentikan sementara uji klinis hydroxychloroquine atau obat malaria sebagai pengobatan potensial bagi pasien virus corona.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan keputusan itu diambil setelah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet menunjukkan obat itu dapat meningkatkan risiko kematian pasien Covid-19.

"Kelompok eksekutif menetapkan menghentikan sementara hydroxychloroquine dalam uji coba, sementara data keselamatan ditinjau oleh Dewan Pemantau Keamanan Data," kata Tedros pada 26 Mei.

Teranyar, obat tersebut dilarang di Amerika Serikat (AS). Setelah sempat memperbolehkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menghentikan izin edar dan penggunaan hydroxychloroquine dan chloroquine untuk mengobati pasien Covid-19.

FDA dalam situs resminya mengatakan izin edar tersebut dicabut karena kedua obat itu dianggap tidak menunjukkan efektivitas bagi pasien yang dirawat karena infeksi Covid-19 di AS.

Sebaliknya, justru muncul laporan bahwa dalam uji klinis skala massal ada kasus gagal jantung dan dampak kesehatan serius lainnya setelah mengonsumsi hydroxychloroquine dan chloroquine.

Meskipun demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan masih menggunakan obat chloroquine untuk pasien virus corona di Indonesia. Pemberian obat kepada pasien Covid-19 dilakukan hati-hati.

"Di Indonesia masih dipakai dengan kehati-hatian, kami pantau ECG-nya," kata Analis Kebijakan Ahli Utama Kemenkes, Siswanto, Rabu (17/6).

Siswanto mengatakan pemakaian chloroquine membutuhkan pengawasan dari tenaga medis. Ia mengakui obat tersebut bisa menimbulkan gagal jantung, terutama pada orang lanjut usia.

Selain itu, kata Siswanto, chloroquine mungkin bukan membunuh virus tetapi sebatas antiradang. Oleh karena itu, pihaknya akan mengawasi ketat penggunaan obat tersebut.

"Mungkin saja chloroquine bukan membunuh virus tapi sebagai antiradang. Mengobati kan tidak harus membunuh virusnya, makanya kita awasi ketat," ujarnya.

Hingga Rabu (17/6), kasus positif virus corona di Indonesia mencapai 41.431 kasus. Sementara, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh 16.243 orang dan pasien meninggal 2.276 orang.

Catatan Redaksi: Judul berita ini diubah pada Kamis (18/6). Sebelumnya berjudul "Chloroquine, Obat yang Diborong Jokowi Kini Dilarang di AS". (ut)