Uang Rp. 11.000 Trilyun Di Swiss dan yang Ada di Kantong Jokowi Hanya Bualan Alias Hoax

HIBURAN- 03 Mei 2020 | 13:12:44 WIB | Dubaca : 152
Uang Rp. 11.000 Trilyun Di Swiss dan yang Ada di Kantong Jokowi Hanya Bualan Alias Hoax

Ingat, siapa yang ngomong di bawah ini :

"Duitnya ada, ada data kalau uang kita di LN sekitar 11.000T, dan informasi yang saya kantongi, lebih banyak laginformasi,".

Atau Ini :

"Kalau saya jadi Presiden, pengangguran kita gaji, ibu-ibu dikasih kartu belanja, ada kartu sembako, dan lain-lainggak,".

Atau Ini :

Ibukota akan kita pindahkan,
Namun pada kenyataanya :

Hutang semakin menggunung, pengangguran tambah menumpuk, harga sembako tidak terkontrol, BUMN rugi, dana haji diembat, uang BPJS disikat, jiwasraya dirampok bersama-sama.

Dan yang lebih parah dan menyakitkan lagi, adalah ketika akan menyatakan perang melawan Corona, Rakyat disuruh nyumbang!!!

Jelas, kamu itu miskin, tapi sombong.
Negara ini lemah, tapi kamu pongah.

Mau lockdown kebingungan tidak punya planning, ketahanan pangan, dan lain-lain.

Makanya,
Berhenti membual!!!
Stop berbohong dan menaruh janji!!!
Kami tahu negara ini seperti apa.
Akui saja kalau kamu memang gagal dan hancur di segala bidang.

Kamu boleh gagal, akui itu. Aku bisa maklum.
Tapi berhentilah bersikap jumawa dan pongah. Allah benci itu.

Sedikit saja kalian itu jadi manusia normal, yang punya simpati dan empati.

Itu, bangsamu, rakyatmu…
Para petugas medis yang rela mempertaruhkan hidup mereka dalam resiko besar, sedang kesulitan besar mendapatkan peralatan.
Tapi kalian masih bergembira dengan wacana pindah ibukoa.
Kalian seperti menggelar pesta makan di tengah wabah kelaparan.

Kalian boleh gagal jadi pemimpin, tapi masih ada waktu untuk tidak gagal jadi manusia.

Berhenti dengan narasi yang tidak berarti.
Kerahkan energi dan kekuatan untuk menyelamatkan bangsa ini.

Saatnya menjadi Otoriter!!!
Ada saatnya gaya kepemimpinan berubah, sesuai situasi yang dihadapi.

Kau bisa instruksikan dan ancam di bawah senjata pabrik-pabrik untuk memproduksi APD, masker, dan lain-lain.

Bukankah ide kalian begitu berlian saat menaikan iuran BPJS?
Malahan bisa mengerahkan jasa penagih???

Bukankah kalian begitu tegas memutus layanan kesehatan ketika rakyat menunggak iuran???

Kapan kalian akan berpihak pada rakyat???

Tolong, hentikan segala omong kosong. Hentikan wacana pindah ini pindah itu. Selesaikan dulu musibah ini.

Apa kabar para konglomerat dan taipan yang selama ini menghisap kekayaan negara???

Apa sumbangan mereka???

Hah? Tidak ada?? Makanya rakyat disuruh menyumbang???

Apa? Mereka, keluarga, dan kerabat mereka sudah merasa aman di Singapore dan tempat bersembunyi lainya???

Aah…
Itu cerita biasa.
Aku sudah tahu tabiat ras parasit itu. Kan, ini bukan pertama kali terjadi.

Kalau aku punya kuasa seperti kamu, akan aku larang mereka kembali, akan aku ambil seluruh asset mereka.
Enak saja, di saat ada duit di sini, mereka yang menari. Di saat ada bencana, mereka yang duluan kabur.
DASAR PARASIT!!!

Mungkin, sebagian orang akan mengatakan, aku penuh kebencian terhadap pemerintah.

Dan akan aku katakan, bukan aku yang benci terhadap pemerintah.
Tetapi pemerintah yang tidak peduli dan tidak sayang pada rakyatnya.

Di saat masih ada waktu buat prepare kalian asyik membahas omnibus law.

Di saat masih ada luang buat persiapan perang, kalian malah asyik bercanda dan berkelakar.

Di saat ada yang peduli dan berinisiatif untuk tindakan preventive, kaliam bully ramai-ramai, kalian tuduh mencari panggung. Kalian takut muka jelek dan hati busuk kalian semakin terkuak…

Dan di saat kita lagi berperang, nyawa sudah banyak melayang, korban berjatuhan, peralatann kurang, kalian masih bisa menyeringai membahas pindahan ibukota.

So… Be it…!!!
From now on, if any of you don’t like my posts, either you my friend or not.
I don’t care.
I’ll not change my mind against this pathetic rezim.
You can unfriend me, block me, or what so ever. I don’t care anymore.

And,
If you ask me what I’ve done to help in this situation?
I’ll send it to your personal mail. Not in public…

I am who I am.
Editor : Setyanegara. (yd)