Berjemur di Bawah Matahari Bisa untuk Mencegah Penyebaran Corona

GAYAHIDUP- 25 Maret 2020 | 07:38:49 WIB | Dubaca : 209
Berjemur di Bawah Matahari Bisa untuk Mencegah Penyebaran Corona

Viral di media sosial tentang kampanye yang mengajak masyarakat untuk berjemur di bawah sinar matahari untuk menangkal diri dari virus corona atau Covid-19.

Diketahui imbauan berjemur itu disampaikan oleh dokter spesialis paru, Vinci Edy Wibowo melalui media sosialnya.

Ajakan dr Vinci untuk berjemur tersebut sontak menjadi jadi perbincangan warganet.

Pasalnya disebut-sebut berjemur di bawah terik matahari bisa mencegah diri dari paparan virus Covid-19.

Diketahui dr Vinci sendiri kini telah terpapar virus corona tersebut.

Sebab sebelumnya ia sempat menangani pasien suspek Covid-19.

Kini dr Vinci pun melepaskan tugasnya sebagai dokter untuk sementara dan menjalani isolasi.

Melansir tayangan YouTube tvOneNews (20/3/2020), kabar bahwa ia telah terpapar pun dibenarkan oleh dr Vinci.

Ia mengatakan bahwa saat ini dirinya harus diisolasi untuk sementara waktu.

"Iya, kebetulan saya juga kontak dengan pasien yang dicurigai Covid-19, saya harus diisolasi dulu sementara waktu," ujar dr Vinci.

Vinci mengaku belum tahu betul sampai kapan ia harus menjalani isolasi.

Namun ia memastkan jika ia terbukti negatif Covid-19, maka ia akan kembali bertugas dan merawat pasien.

"Ya sampai saya terbukti negatif (Covid-19),"

"Insyaallah kalau memang negatif saya akan kembali bertugas lagi," ujarnya.

Disinggung soal videonya yang mengajak masyarakat untuk berjemur, dr Vinci memberikan penjelasan serta khasiat apabila tubuh berjemur di bawah sinar matahari.

Ia mengatakan berjemur bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh dalam menangkal virus.

Meski begitu, kita tetap tidak boleh melupakan pencegahan dasar dengan mencuci tangan dan menggunakan APD.

"Tetap kita kembali ke pencegahan dasar, cuci tangan tetap, masker, APD juga tetap,"

"Tapi yang selalu terlupakan pasti gaya hidup sebenarnya sih," ujar Vinci.

Ia menyebutkan berjemur di bawa terik matahari merukan satu di antara cara yang bisa membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Selain berjemur merupakan cara sederhana, sinar matahari bisa didapatkan siapa saja secara gratis.

"Nah yang paling sederhana itu kan dari matahari,"

"Matahari itu di kita selalu ada tapi tidak dimanfaatkan dengan baik," ungkap dr Vinci.

"Itu yang sayang sekali saya lihat," lanjutnya.

Belajar dari pengalamannya menangani pasien, dr Vinci mengungkapkan sebagian besar pasien-pasiennya disebabkan oleh kurangnya asupan sinar matahari ke dalam tubuh.

"Sebgaian besar pasien saya sih, rata-rata kurang matahari," kata dr Vinci.

Dalam tayangan tersebut, dr Vinci mengaku sempat menangani dua pasien positif Covid-19, dan pernah melakukan kontak dengan pasien tersebut.

"Sementara 2 (pasien), kalau yang lain-lain sementara ada yang belum confirm," ujarnya.

Lebih lanjut, dr Vinci mengungkapkan, biasanya orang-orang yang mudah terserang pilek dan batuk mereka adalah orang yang kekurangan asupan sinar matahari ke dalam tubuhnya.

Ia mengatakan, kurangnya asupan sinar matahari ke dalam tubuh bisa menyebabkan menurunnya data tahan tubuh.

Sehingga kampanyenya untuk mengajak masyarakat rajin berjemur diharapkan bisa membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan tidak mudah terpapar virus.

"Untuk infeksi secara umum, pada pasien-pasien yang sering batuk pilek berulang, salah satu penyebabnya kalau saya (amati) pasti penyebabnya salah satunya karena kurang matahari," terang dr Vinci.

Sekali lagi, ia menegaskan bahwa intinya berjemur di bawah sinar matahari yang terik.

"Intinya matahari terik," ujarnya.

Ia mengatakan matahari terik biasanya terdapat pada pukul 8.00 pagi hingga pukul 4.00 sore.

"Matahari terik itu di atas jam 8.00 (pagi),"

"Ya di jam 12.00 pun kalau mau bisa, sampai jam 4.00 sore," ujarnya.

Selain berjemur, dr Vinci juga menyarankan agar tidur cukup.

Terutama bagi para petugas medis yang bekerja siang malam untuk merawat pasien.

"Tidur (yang cukup) saya katakan,"

"Rata-rata tenaga kesehatan yang lagi berjuang ini pasti tidurnya kurang," ujarnya.

Menurutnya kurang tidur juga bisa menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh secara drastis.

"Itu salah satu yang menyebabkan daya tahan tubuhnya turun drastis," ujarnya.

Ia juga menyarankan agar tidur cukup yang ideal, yakni 6-8 jam.

"Idealnya tidur malam, kalau tidak bisa karena bekerja tetap diusahakan 6 jam. Jangan sampai tidurnya kurang," katanya.

Tidur di malam hari memang lebih baik, namun apabila bagi para pekerja yang tidak bisa tidur saat malam hari.

Sebab malam hari merupakan waktu tubuh untuk meregenerasi sel-sel dalam tubuh.

Kebutuhan tidurnya bisa diganti pada waktu siang hari.

"Bila mau tidur pagi atau siang, dibikin kondisinya segelap mungkin, supaya menyerupai malam,"

"Jadi pada saat kondisi tidurnya gelap, kualitas tidurnya akan lebih baik dibandingkan kalau tidur dalam kondisi terang," ujarnya. (utw)