DKI Jakarta Tuan Rumah Formula E :Mimpi Dunia dan Keuntungan Ekonomi Bagi Indonesia

OTOMOTIVE- 23 Januari 2020 | 00:17:16 WIB | Dubaca : 218
DKI Jakarta Tuan Rumah Formula E :Mimpi Dunia dan Keuntungan Ekonomi Bagi Indonesia

Masyarakat Indonesia khususnya warga Jakarta sangat bangga karena Ibu Kota negara ini dipilih menjadi salah satu tuan rumah Formula E. Ajang balap mobil listrik dunia akan digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada 6 Juni 2020. Wah ini sebuah kemajuan besar bagi Jakarta.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta semakin gencar mempersiapkan gelaran balap mobil listrik Formula E, Jakarta E-Prix, yang akan berlangsung pada Juni 2020 mendatang. Vice Chairman Jakarta E Prix Dian Fatwa mengatakan,"tim Formula E dari London yang datang mengecek kesiapan Jakarta E Prix dua pekan lalu, memberi apresiasi terhadap persiapan yang dilakukan,".

"They are very happy dengan apa yang sudah kami lakukan. Semuanya excited untuk bagaimana pelaksanaan tanggal 6 Juni 2020 ini bisa berjalan dengan baik. Persiapannya sekarang on the track," ujar Dian saat ditemui di Balai Kota DKI, Jakarta, Selasa (22/1).

Menurutnya, Indonesia patut berbangga karena kegiatan bergengsi internasional itu dapat diselenggarakan di Ibu Kota. Dengan demikian, Jakarta dapat semakin dikenal dan bisa bersanding dengan kota-kota di negara lain, yang lebih dulu melaksanakan Formula E.

Mengapa event balapan ini menjadi sangat penting bagi Jakarta?

Tentu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memperhitungkan dengan matang terutama dampak positifnya bagi masyarakat secara keseluruhan, ajang ini bukan untuk pride atau arena show off.

Pertama, karena ini balapan mobil listrik maka sangat erat kaitannya dengan lingkungan hidup. Penyelenggaraan Formula E bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan kendaraan listrik. Balap mobil Formula E di Jakarta mengingatkan kepada semua bahwa masa depan transportasi adalah transportasi yang bebas emisi.

Formula E adalah momentum paling tepat untuk mendorong pemakaian mobil listrik. Jakarta ingin menjadi yang terdepan di regional. Propinsi kita sudah menetapkan bahwa seluruh bus umum baru harus bus listrik mulai tahun 2023. Kemudian pada tahun 2028 diharapkan seluruh bus umum haruslah bus listrik.

Selanjutnya adalah manfaat ekonomi yang dihasilkan dari gelaran Formula E. Ajang ini bukan untuk suatu pemborosan anggaran sia-sia yang selama ini ditudingkan oleh pihak tertentu. Seperti halnya perhelatan Asian Games 2018 yang saat itu dibiayai oleh pemerintah pusat, kegiatan tersebut memberikan manfaat ekonomi khususnya bagi Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat yang merupakan tempat terlaksananya kegiatan, juga bagi Indonesia.

Yang perlu digaris bawahi saat ini adalah kerugian akibat banjir bukan berarti harus melepaskan peluang untuk mendapatkan banyak manfaat dari event internasional ini. Justru inilah saatnya Jakarta lebih bangkit karena akan ada pergerakkan perekonomian yang mencapai hingga Rp 1,2 triliun seperti dalam studi kelayakan yang telah dilakukan oleh McKinsey.

Bahkan dari kegiatan konstruksi, akomodasi, hospitality, belanja atau entertainment dan kegiatan ekonomi lainnya sebagai dampak ekonomi tambahan (incremential economic impact) bisa mencapai Rp 455-536 miliar, tentu ini akan mengangkat perekonomian warga DKI Jakarta.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah Formula E bukan sekedar kegiatan balapan biasa. Event bergengsi ini merupakan destinasi wisata yang akan menggerakkan perekonomian warga Jakarta di berbagai sektor. Hajatan besar ini dapat menempatkan Jakarta sebagai tujuan investasi utama di kawasan regional dan dunia seperti halnya Kuala Lumpur dan Singapura.

Kita sebagai warga Jakarta tentu sangat menantikan agar gelaran ini dapat berjalan dengan keberhasilan yang besar.

Sudah saatnya membangun Jakarta sebagai kota kelas dunia. Kita beritahukan kepada khalayak dunia kota Jakarta sukses menyelenggarakan event Grand Prix Formula E sebagai platform kampanye kendaraan ramah emisi gas buang untuk bumi yang lebih sehat!. (tw)