Marak Label Nasional di Balik Mobil-Motor China di RI, Siapa Bermain?

OTOMOTIVE- 17 Januari 2020 | 08:43:50 WIB | Dubaca : 174
Marak Label Nasional di Balik Mobil-Motor China di RI, Siapa Bermain?

Pasar otomotif Indonesia kian ramai setelah perusahaan berlabel nasional mulai banyak bermunculan. Hal itu awalnya dianggap baik, lantaran menjadi bukti bahwa bangsa kita mampu berdiri di atas kaki sendiri. Namun ada satu pertanyaan yang mesti dipertegas, apakah produk yang dihasilkan murni buatan dalam negeri?

Ketika PT Solo Manufaktur Kreasi melahirkan produk pertama Esemka yang bernama Bima, masyarakat Tanah air seketika mempertanyakan statusnya yang diklaim sebagai produk nasional. Sebab, kandungan lokal di mobil jenis pikap tersebut tak sampai 50 persen dari jumlah keseluruhan.

Ditambah lagi, secara tampilan, mobil yang saat peresmiannya dihadiri Presiden Joko Widodo itu juga nampak menyerupai pikap China bernama Changan Star. Hal itu tentu kian membuat masyarakat ragu mengenai posisinya sebagai mobil buatan anak bangsa.

Pick up Esemka Bima

Bukan hanya roda empat, merek sepeda motor berlabel nasional juga turut menyita perhatian publik. Terbaru, PT Indo Jaya Motor Electric melalui produknya bernama Elvindo mengklaim sebagai produk asli Indonesia. Namun, pihaknya hanya bertindak sebagai perakit saja, sedang komponennya masih berasal dari China.

"Kita impor komponen dari China, kemudian merakitnya di Indonesia," ujar purnawirawan Irjen Pol Setyo Wasisto yang kini menjabat sebagai Komisaris Elvindo di Tangerang (15/1/2020).

Lantas, mengapa fenomena sembunyinya merek China di balik embel-embel "nasional" belakangan sedang marak? Pengamat otomotif senior sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung, Yannes Pasaribu menyebut, hal itu hanya akal-akal perusahaan Negeri Tirai Bambu, agar mendapat atensi lebih dari masyarakat Indonesia.

"Sejauh ini mereka (merek China) menggunakan label ‘nasional’ untuk keperluan branding saja. Mereka kelihatannya mau menjual isu nasionalisme demi keuntungan pribadi," ujar Yannes melalui sambungan telepon, Rabu 15 Januari 2020.

"Hanya China satu-satunya negara yang mau menjual produk tanpa mereknya (white label) ke negara lain untuk nantinya di-relabelling dan dijual sesuai kesepakatan," kata dia. (ut)