Jokowi Sebut Cina Kejar Ikannya ke Natuna, Benarkah?

KABAR HANKAM- 13 Januari 2020 | 01:27:34 WIB | Dubaca : 158
Jokowi Sebut Cina Kejar Ikannya ke Natuna, Benarkah?

Era pemerintahan Jokowi, kiblat investasi lebih condong ke China. Komunikasi Jakarta-Beijing pun selalu dilakukan secara intensif, terkait peningkatan investasi didalam negeri. Hingga kini China telah menggelontorkan utang ke RI mencapai ratusan hingga ribuan trilyun.

Poros Jakarta-Beijing pun nampak harmonis dan adem ayem dalam hubungan kerjasama investasi. Dan sepertinya hubungan harmonis itu dapat berlangsung panjang.

Namun keharmonisan poros Jakarta-Beijing, mungkin saja akan terganggu setelah muncul provokasi China di Laut Natuna. Ketegangan RI-China diawal tahun ini pun tak dapat dihindarkan.

Banyak analisa yang wara-wiri di media sosial atas Provokasi China di Laut Natuna tersebut. Dan ada satu analisa yang cukup menarik untuk dicermati.

Yaitu analisa bahwa provokasi China di Natuna ialah sebuah sinyelemen untuk menguatkan soal sentimen anti China di kawasan Natuna.

Sudah lama perairan Natuna diklaim sepihak oleh China. Dan mereka telah lancang menandai sembilan garis putus-putus di Laut China Selatan sebagai batas teritorial perairan laut China. Lalu diklaim sebagai wilayah Zona Ekonomi Eksklusif mereka.

Era pemerintahan SBY pernah memprotes via PBB, namun tak digubris. Hingga era Presiden Jokowi, PBB belum juga menyetujui protes dari Indonesia. Namun pada 2016 silam PBB telah menolak dasar klaim wilayah China atas hampir seluruh perairan Laut China Selatan. Hasil dari gugatan Filipina ke Mahkamah Arbitrase Internasional atau Permanent Court of Arbitration (PCA), kelembagaan hukum di bawah PBB.

Artinya klaim China atas Laut Natuna tak berlaku berdasarkan keputusan PBB, meski China menolak dengan tegas. Dan persoalan kalim atas Natuna pun terkatung. Nampaknya China juga tidak pernah menyinggung dan seolah membiarkan persoalan itu tidak selesai.

Bisa juga pembiaran itu hanya sebuah sinyalemen untuk memperkuat sentimen anti China di kawasan Natuna. Buntutnya adalah kerusuhan rasial. Hal ini, akan membahayakan posisi Indonesia di mata dunia internasional.

China tentu akan mengambil keuntungan, jika kerusuhan rasial mencuat. Mereka tidak perlu kekuatan militernya untuk masuk secara total dan menguasai wilayah Natuna.

Provakasi itu tidak akan memberi dampak secara signifikan. Sebab Pemerintah RI punya ‘Menteri Pertahanan’ yang garang dan sangat piawai dan jitu soal strategi perang penguasaan wilayah. Provokasi recehan ala China seperti itu tak mungkin membuat RI terpancing.

Agar tidak mudah terpancing sekaligus meredam ketegangan RI-China. Presiden Jokowi melontarkan kalimat lucu yang tidak masuk akal; "Kapal-kapal dari China itu masuk hanya untuk mengejar Ikan yang lari ke Natuna".

Soal kejar mengejar ikan yang dilakukan oleh kapal Cina yang disampaikan oleh seorang jokowi selaku Presiden RI sangatlah tidak lucu dan tidak logis dalam mengungkapkan alasannya kepada publik yang sudah terlanjur kesal dengan tingkah laku cina yang telah melanggar ZEE. (tw)