Cara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Berikan Peringatan Banjir dan Antisipasinya

GAYAHIDUP- 12 Januari 2020 | 09:52:07 WIB | Dubaca : 215
Cara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Berikan Peringatan Banjir dan Antisipasinya

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan punya cara baru dalam menyampaikan peringatan bencana banjir kepada warga Ibu Kota. Ia mengatakan akan memanfaatkan toa atau pengeras suara untuk menginformasikan potensi banjir.

"Nanti langsung ke masyarakat berkeliling menggunakan toa (pengeras suara) untuk memberitahu semuanya," ujarnya.

Menurut Anies, peringatan dini saat banjir kemarin pemerintah telah menginformasikannya kepada masyarakat di media sosial. Menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu tidak semua mendapatkan informasi yang disebar melalui media sosial. "Malam hari diberitahunya lewat HP. Akhirnya sebagian tidak dapat informasi,".

Anies mengatakan selain toa, ia akan memerintahkan anak buahnya berkeliling dari pintu ke pintu untuk memberi peringatan banjir.

"Saya instruksikan untuk langsung turun ke lapangan door to door," ujar Anies saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Jumat 10 Januari 2020.

Langkah tersebut kata Anies karena saat banjir kemarin warga khususnya yang berada di sisi aliran sungai mendapatkan informasi atau bertukar kabar banjir melalui handphone.

Menurut Anies langkah tersebut tidak efektif, karena banjir datang tanpa melihat waktu. "Bila kejadiannya dini hari masyarakat yang tidak ngecek telepon, tidak dapat pemberitahuan," ujarnya.

Anies menyebutkan posko dan petugas di tingkat kelurahan telah disiagakan untuk membantu masyarakat saat terjadi banjir. Saat terjadi kenaikan permukaan air di pintu air, kata dia, petugas akan segera membantu warga terutama yang berada di sisi aliran sungai.

Anies menyebutkan pihaknya telah siap siaga untuk menghadapi potensi banjir, setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem hingga 12 Januari mendatang.

"Sudah siap, sekarang setiap kelurahan sudah ada posko-posko yang siaga," ujarnya.

11 Januari 2020 adalah puncak bulan purnama yang berbarengan dengan gerhana bulan penumbra pertama di 2020, sehingga terjadi pasang laut maksimum yg bisa memicu banjir rob. Berbeda dengan banjir 1 Januari lalu akibat curah hujan tinggi yang di jauh di atas perkiraan, banjir rob akibat siklus pasang surut laut lebih mudah kita prediksi dan antisipasi sejak dini.

Kemarin memeriksa pompa stasioner dan pompa mobile di waduk Muara Angke untuk memastikan kesiapan menghadapi naiknya permukaan air laut. Seluruh pompa di Rumah Pompa Waduk Muara Angke di Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dalam kondisi baik dan siap difungsikan.

Dinas SDA DKI Jakarta terus bersiaga menghadapi potensi terjadinya banjir maupun genangan. Baik yang disebabkan oleh pasang air laut, hujan lokal, maupun air kiriman dari wilayah hulu.

DIBALIK SUKSESNYA PENANGGANAN BANJIR DI JAKARTA ERA GUBERNUR ANIES BASWEDAN

Kebijakan Gubernur Anies Baswedan sudah tepat, karena menggunakan naturalisasi bantaran Kali Ciliwung, bukan normalisasi.Pak Gubernur Anies Baswedan sdh menyampaikan naturalisasi keharusan, normalisasi keterpaksaan.13 sungai kewenangan pemerintah pusat PPUR yg seharusnya diselesaikan dengan cepat karna itu janji pak jokowi tahun 2014,Gubernur Anies Baswedan menggunakan cara naturalisasi agar EKOSISTEM TERJAGA dengan baik, apa yg sudah di sampaikan gubernur anies baswedan kepada kementerian PPUR.

Program naturalisasi yang di usung GUBERNUR Anies Baswedan berbeda dengan program pemerintah pusat dalam penanganan banjir. Pemerintah pusat memakai konsep normalisasi. Hal tersebut membuat terjadinya silang pendapat antara dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dengan gubernur Anies baswedan saat meninjau beberapa titik banjir.

Bisa dilihat bencana banjir yg melanda DKI JAKARTA dari 2002 sampai 2020 sangat berbeda,dgn cuaca ekstrem siklus 154 tahun terjadi awal tahun 2020 gubernur Anies Baswedan mampu menangani banjir tidak sampai seminggu dan banjir tidak sampai ke titik lokasi Area Strategis seperti Bundaran HI dan istana negara.bencana terparah dan korban banjir terlihat di era gubernur yg menjabat di tahun 2002 SAMPAI 2015 bencana banjir tersebut sampai berminggu-minggu.

Kesuksesan beliau menangani banjir dibangun sumur resapan di setiap kelurahan, pembersihan sungai dan waduk,revitalisasi drainase.Pada intinya konsep van Breen adalah mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk DKI JAKARTA.

Karena itu, perlu dibangun saluran-saluran pengumpul air di pinggir selatan DKI JAKARTA untuk menampung limpahan air.Gubernur Anies Baswedan langsung mengkomando kerja bakti berkolaborasi bekerjasama untuk menyelesaikan masalah tanpa menyalahkan siapapun dan apapun turun tangan menyelamatkan warga sampai warga merasakan kenyamanan.

Sumber data dari Kemenko PMK penanganan banjir tahun 2002 SAMPAI 2020 Gubernur Anies Baswedan lebih baik dan berhasil menangani bencana banjir lebih cepat tuntas. (utw)