Kisah Para Prajurit Kopassus yang Lolos dan Lihat Pratu Suparlan Tewas Dikeroyok Pemberontak

KABAR HANKAM- 24 Desember 2019 | 08:28:23 WIB | Dubaca : 256
Kisah Para Prajurit Kopassus yang Lolos dan Lihat Pratu Suparlan Tewas Dikeroyok Pemberontak

Cerita Pratu Suparlan anggota Komando Pasukan Khusus yang gugur melindungi rekan-rekannya di medan perang menjadi satu di antara kisah heroik yang menggetarkan hati.

Pratu Suparlan merupakan seorang prajurit Kopassus yang mengorbankan nyawanya demi negara.

Kisah heroik ini terjadi di medang perang wilayah Timor-timur atau sekarang bernama Timor Leste.

Mengutip dari laman kopassus.mil.id, peristiwa ini terjadi pada 9 Januari 1983, saat satu unit gabungan tentara Nanggala-LII Kopassandha pimpinan Letnan Poniman Dasuki, tengah berpatroli di KV 34 – 34/Komplek Liasidi, suatu daerah sangat rawan di pedalaman.

Maklum, daerah tersebut merupakan tempatnya para pentolan pemberontak Fretilin yang tak sungkan menghabisi anggota TNI yang mereka jumpai.

Tiba-tiba sepasukan kecil TNI ini diadang oleh sekitar 300-an Fretilin (sayap militer terlatih Timor-Timur), lengkap bersenjatakan senapan serbu, mortar, dan GLM.

Terjadilah pertempuran tak imbang antara ratusan Fretilin di ketinggian, dengan TNI pada posisi di pinggir jurang.

Satu per satu anggota pasukan kecil ini gugur, dimangsa peluru Fretilin.

Menyadari hal ini, Dan Tim segera memerintahkan pasukan untuk meloloskan diri ke satu-satunya peluang, yakni ke celah bukit.

Namun hanya sedikit waktu yang tersisa bagi pasukan kecil ini, sehingga Pratu Suparlan menyatakan pada komandannya untuk terus maju, sementara ia sendiri memilih untuk menghadang musuh.

Di sinilah jiwa seorang patriot terbukti.

Pratu Suparlan membuang senjatanya dan mengambil senapan mesin milik rekannya yang gugur.

Tanpa gentar sedikit pun, ia menerjang ke arah pasukan Fretilin.

Hamburan peluru senapan mesin musuh yang mengoyak tubuh Pratu Suparlan, dibalasnya dengan rentetan peluru, hingga amunisinya habis.

Meski bersimbah darah, prajurit Kopassus ini tetap tegar bagai Banteng Ketaton.

Bukannya roboh seperti harapan musuh, Pratu Suparlan justru menghunus pisau Komandonya, lalu berlari mengejar Fretilin ke tengah semak belukar, dan merobohkan 6 personil pasu¬kan militer komunis tersebut.

Tak terhitung jumlah peluru yang telah menancap di tubuhnya, membuat seragam loreng yang dikenakan Pratu Suparlan, berubah warna menjadi merah akibat darah yang mengucur deras dari luka-lukanya.

Namun ia tak menyerah, meski pasukan komunis itu menjadikannya bulan-bulanan peluru.

Tibalah Pratu Suparlan pada ambang kesanggupannya, ia terduduk dan tak lagi mampu menggenggam pisau Komandonya.

"Itulah kisah heroik prajurit Kopassus dan menghadapi pasukam komunis fretilin. Jadi saat ini, kita harus waspada akan kebangkitan Neo Komunis di Indonesia,"ungkap Danjen Kopassus saat ini, Mayjen Cantiasa di Jakarta. (utw)