Erick Thohir Vs Rini Soemarno, Perang di BUMN dan Siapa yang Kuat?

FOKUS PERISTIWA- 08 Desember 2019 | 14:29:48 WIB | Dubaca : 187
Erick Thohir Vs Rini Soemarno, Perang di BUMN dan Siapa yang Kuat?

Tidak butuh waktu lama, Menteri BUMN Erick Thohir langsung melakukan gebrakan dengan memecat Direktur utama, bahkan akan mengganti seluruh Direksi Garuda yang ada.

Seperti mendapat booster saat Sri Mulyani mendapati ada penyelundupan barang mewah lewat kargo Garuda. Ini bukan kejadian tidak disengaja, tetapi sudah direncanakan untuk mencari celah bagaimana membersihkan BUMN-BUMN dibawah kepemimpinan Erick.

Erick juga tidak perlu KPK untuk membersihkan sarang tikus di Garuda. Ia memainkan operasi intelijen dan melihat dimana lubang-lubang yang bisa dimainkan untuk menyingkirkan para Direksi disana.

Dan ketika mendapat laporan intelijen bahwa ada permainan dalam pengiriman di Garuda, ia lalu bersama Bea Cukai menggarapnya.

Perhatikan, Erick mempunyai cara yang berbeda dalam mengatasi masalah. Instingnya jalan, itu karena ia dan abangnya, Boy Thohir, biasa menjalankan strategi Merger & Akuisisi dalam bisnisnya. Sederhananya, itu bisnis beli perusahaan yang rusak, perbaiki dan jual kembali dengan harga tinggi.

Untuk bisa mendeteksi kerusakan dalam sebuah perusahaan yang dibeli, memang perlu intelijen khusus. Dari laporan ini kemudian dijadikan sebuah strategi untuk merombak jajaran supaya lebih efektif dan bergigi.

Yang patut disayangkan adalah, saat ini Erick Thohir menempatkan Ahok sebagai komisaris utama pertamina tanpa melihat backgroundnya sesuai aturan yg berlaku, apakah ada unsur paksaan atau titipin oleh rezim saat ini? dan mengapa yang erick taruh orang-orang keturunan cina di posisi-posisi strategis di beberapa BUMN? Apakah kedepannya, BUMN tersebut akan diprivatisasi dan akankah semakin hancur?

Rini Soemarno juga punya keilmuan yang sama dengan Erick. Cuman, karena dia kebanyakan main politik, jadilah suka main "titip menitip" supaya bisa terus dapat posisi. Erick beda. Dia pebisnis tulen. Ukuran buat dia adalah nilai perusahaan yang dia beli dan kelak akan dia jual kembali.

Karena itulah dia merombak konsep "Superholding" BUMN yang digagas Rini. bagimana mau jadi Superholding, wong BUMNnya banyak yang gak jelas kerjanya. Ada BUMN minyak yang bisnis laundry. Ada yang bisnis utama pembiayaan kapal, lalu jadi simpan pinjam.

Rini sebenarnya tahu kalau ia akan diganti oleh orang yang lebih pintar dari dia. Makanya sebelum Jokowi dilantik dan mengingatkan jangan ada yang melakukan kegiatan apapun, Rini membangkang dengan merombak jajaran Direksi di beberapa BUMN dan menaruh orang-orangnya. Dia tahu, Direksi BUMN sulit dipecat jika tidak ada kejadian luar biasa, seperti kriminal. Jika ada yang dipecat, akan timbul keributan.

Tapi Erick ternyata lebih pintar dan punya seribu cara untuk "perang". Dia sudah terlatih ketika membeli klub bola sepakbola dan perusahaan internasional. Dia tidak bisa dibodohi dalam merestrukturisasi perusahaan.

Kalau ingin tahu model strategi seperti itu, nonton film model "Wall Street, Money Never Sleeps". Dunia disana buas dan kejam, penuh kegesitan, kecerdikan juga keculasan.

Ini baru Garuda yang digarap, kita tunggu lagi BUMN besar mana yang bentar lagi ribut karena dirombak ? Pertamina atau perusahaan tambang?

Ketika Erick mendatangi Rini untuk bersalaman saat menggantikannya, ia terlihat mendekati dan seperti berbisik ditelinga Rini, "Its just business, nothing personal..". (yd)