Perusahaan Moeldoko Gandeng PLN untuk produksi Mobil Listrik, Apakah Ini KKN?

OTOMOTIVE- 08 November 2019 | 05:09:08 WIB | Dubaca : 118
Perusahaan Moeldoko Gandeng PLN untuk produksi Mobil Listrik, Apakah Ini KKN?

PLN menjalin kerja sama dengan perusahaan Kepala Staff Kepresidenan RI Moeldoko, Mobil Anak Bangsa (MAB), untuk mempercepat produksi mobil listrik berbasis baterai. Kedua perusahaan berencana memanfaatkan produk dalam negeri untuk produksi kendaraan listrik berskala nasional maupun internasional.

Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Plt Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani dengan Presiden Direktur MAB Leonard di Kantor PLN Pusat, Rabu (6/11). Acara penandatanganan itu disaksikan oleh pendiri MAB Moeldoko.

"Nota Kesepahaman ini untuk membangun kemitraan dan sinergi usaha dua pihak dengan prinsip saling memberikan manfaat dalam pengembangan produk kendaraan listrik dalam negeri," ujar Sripeni dalam keterangan tertulis pada Rabu (6/11).

Sripeni mengatakan kerja sama tersebut menjadi bukti komitmen dan kontribusi bersama terhadap program pemerintah. Terutama dalam melaksanakan Peraturan Presiden (Perpres) no 55 tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle).

"Terlebih MAB merupakan produk lokal Indonesia, tentu support kami sangat besar untuk hal ini," katanya.

Moeldoko mengatakan Indonesia memiliki komitmen tinggi untuk mengurangi emisi yang disepakati dalam pertemuan COP21 di Paris. Komitmen tersebut harus bisa diwujudkan dengan cara mengurangi penggunaan energi fosil.

"Sehingga hadirnya mobil listrik menjadi upaya pemerintah dan upaya bersama dalam mewujudkannya,” ujar Moeldoko.

Apalagi Indonesia belum masuk ke dalam negara yang mampu memproduksi baterai lithium-ion global untuk kendaraan listrik. Adapun produksi baterai lithium terkonsentrasi di empat negara, yakni Amerika Serikat (AS), Tiongkok, Korea Selatan, dan Polandia.

Tiongkok merupakan produsen terbesar baterai lithium ion dunia, dengan kapasitas 16,4 Gigawatt hour (GWh) pada 2016. Produksi baterai lithium-ion Tiongkok ini diprediksi akan mencapai 107,5 GWh pada 2020 atau tumbuh hampir enam kali lipat dibandingkan 2016.

Korea Selatan berada di posisi kedua pada 2016 dengan kapasitas produksi baterai lithium-ion 10,5 GWh. Pada 2020, total kapasitas produksi baterai tersebut akan mencapai 23 GWh atau dua kali lipat dari 2016.

Namun, posisi Korsel pada 2020 akan digeser oleh AS. Kapasitas produksi baterai lithium AS pada 2016 baru sebesar 1 GWh. Angka ini akan meningkat 37 kali lipat menjadi 38 GWh pada 2020 atau terbesar kedua di dunia. Selengkapnya dalam grafik Databoks berikut ini :

Lebih lanjut Moeldoko menyampaikan peran PLN sangat penting dalam pemanfaatan mobil listrik. Pembangunan mobil listrik merupakan salah satu upaya perubahan pola hidup masyrakat Indonesia menjadi lebih baik.

Senada dengan Moeldoko, Leonard menjelaskan peran PLN sebagai penggerak pemanfaatan mobil listrik.“Berawal dari lingkungan negara seperti kementerian dan BUMN, lalu berkembang ke lingkungan bisnis.” kata Leonard.

Di sisi lain, PLN juga giat membangun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Tahun ini PLN berencana membangun 10 SPKLU di seluruh Indonesia.

Secara berangsur sampai tahun depan, diharapkan jumlahnya terus bertambah, guna menunjang hadirnya perangkat kendaraan listrik mulai dari mobil listrik berbasis baterai, motor listrik, dan berbagai kendaraan listrik lainnya.

Sebelumnya PLN juga telah mengikat kerjasama dengan 20 perusahaan swasta dan BUMN untuk penyediaan SPKLU di sejumlah instansi, termasuk area parkir kendaraan bermotor di berbagai perkantoran dan juga nantinya di pusat-pusat perbelanjaan.

Adapun, saat ini produsen mobil berupaya meluncurkan mobil listrik dengan kualitas terbaik. Salah satunya perusahaan asal Amerika-Tiongkok, Faraday Future, yang meluncurkan mobil listrik pertamanya pada 2017 dengan nama FF91. Mobil ini dapat melaju dari 0 ke 60 Mph hanya dalam waktu 2,39 detik.

Mobil ini juga dapat menempuh jarak 378 mil atau sekitar 608 km dalam sekali pengisian daya. Angka ini melibas rekor sebelumnya yang dipegang Tesla P100D dengan jarak 337 mil atau 542,57 km.

Selain jarak tempuh yang lebih jauh, Faraday Future juga meluncurkan sistem bernama FFID. Fitur ini mampu menyimpan data tentang preferensi pengemudinya.

Moeldoko masih menjabat sebagai pejabat publik dan melakukan bisnis di proyek pemerintah, apakah ini KKN? (tw)