Jokowi Sudah Terima Bocoran Nama Menteri Kabinet Jilid 2, Berarti Bukan Presiden yang Memilihnya

MEGAPOLITAN- 18 Oktober 2019 | 08:37:34 WIB | Dubaca : 149
Jokowi Sudah Terima Bocoran Nama Menteri Kabinet Jilid 2, Berarti Bukan Presiden yang Memilihnya

Jokowi mengakui telah menerima beberapa versi "bocoran" nama-nama menteri kabinet untuk pemerintahan periode 2019-2024. "Saya sendiri membacanya dengan antusias kalau-kalau itu benar adalah bocoran," tulis Presiden Jokowi melalui fan page Facebooknya, yang baru diunggahnya, Kamis (17/10/2019).

Yang jelas, susunan kabinet sudah rampung. Ia akan umumkan segera setelah pelantikan Presiden pada 20 Oktober, bisa hari yang sama, atau setelahnya. Mengenai siapa-siapa yang akan membantu dirinya di pemerintahan nanti, Presiden Jokowi meminta masyarakat bersabar.

"Indonesia ini tak berkekurangan orang-orang hebat dan mampu memimpin kementerian dan lembaga, dan bersedia untuk mengabdi kepada bangsa ini," tulis Jokowi.

Berarti saat ini, bukan Jokowi langsung yang memilih para menterinya yang kelak akan menjadi anak buahnya untuk membantu jalannya roda pemerintahan dan bukan lagi menjadi hak Prerogatif Presiden, melainkan hanyalah titipan dan loby politik agar bisa masuk jadi menteri saat ini.

Mereka ada di semua bidang pekerjaan dan profesi: akademisi, politisi, santri, juga TNI dan polisi. "Tidak sulit menemukan mereka," pungkas Kepala Negara. Presiden Jokowi sudah menyusun menteri-menteri yang akan duduk di Kabinet Kerja Jilid II. Nantinya, komposisi menteri di kabinet baru adalah 55:45. Artinya, sebanyak 55 persen dari menteri di kabinet baru itu berasal dari kalangan profesional.

Ia juga mengungkapkan masih akan ada muka-muka lama yang menduduki jabatan menteri dalam kabinet kerja jilid II. Jokowi juga sempat berbicara soal calon menterinya yang akan diisi kalangan generasi muda, bahkan yang berusia di bawah 30 tahun. Namun, ia tidak merinci berapa jumlahnya.

Jokowi berjanji akan segera mengumumkan nama menteri kabinetnya setelah dilantik pada 20 Oktober 2019 nanti. Presiden tampaknya membuka ruang untuk kubu oposisi bergabung dalam kabinet. Apalagi Presiden pada pekan lalu bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Oktober 2019 dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pada 11 Oktober 2019. (yd)