Pemerintahannya Amburadul di Periode Pertama, Pencitraan Jokowi Harus Dibantu Lima Jubir

LIPUTAN KHUSUS- 10 September 2019 | 06:59:29 WIB | Dubaca : 127
Pemerintahannya Amburadul di Periode Pertama, Pencitraan Jokowi Harus Dibantu Lima Jubir

Berkaca pada periode pertama di 2014-2019, dimana pemerintahan Jokowi tidak mempunyai "Pintu" yang jelas atau amburadul dalam setiap mengambil kebijakannya.

Pengamat politik Adi Prayitno mengkritisi ketidakjelasan jurubicara yang ditunjuk presiden dalam memberikan informasi soal dinamika yang terjadi kepada masyarakat pada periode pertama. Salah satunya dengan penunjukan juru bicara yang banyak.

Dari masalah ekonomi, isu kebhinekaan, hingga masalah terbaru soal kerusuhan Papua yang tak termanajemen dengan baik.

"Hampir semua pembantu Jokowi bicara soal Papua, dari mulai Kepala Staf Presiden (Moeldoko), menteri, sampai jurubicara yang terkenal sebagai ulama (Ali Mochtar Ngabalin) ini bicara semua," kata Adi saat berbincang dengan redaksi beberapa saat lalu.

Ia pun berpandangan hilangnya sosok jurubicara sentral Istana usai Johan Budi tenggelam dan memilih berkontestasi di Pemilu melalui kendaraan politik PDIP.

"Memang sejak Johan Budi ngilang itu seakan kita lihat manajemennya amburadul, acak-acakan," sambungnya.

Adi kemudian menyarankan kepada Presiden Joko Widodo yang akan kembali memerintah bersama dengan Wapres KH Maruf Amin untuk berbenah diri dalam membereskan keberadaan jubir.

Periode kedua Jokowi, Adi mengusulkan memerlukan sedikitnya lima jubir yang dibagi dalam beberapa persoalan.

"Misal soal politik ada Jubir sendiri, kemudian soal keagamaan ditunjuk siapa yang bicara, dari sisi ekonomi siapa. Minimal lima lah karena tugas presiden kan memang tidak mudah," tandasnya. (ut)