Ironi Papua Saat Ini di Rezim Jokowi

LIPUTAN KHUSUS- 21 Agustus 2019 | 09:43:59 WIB | Dubaca : 263
Ironi Papua Saat Ini di Rezim Jokowi

Publik Papua, hanya meminta adanya keadilan atas pelanggaran HAM. Namun pemerintah justru menganggap sepele permintaan masyarakat Papua tersebut. Dalam pemikiran pemerintah, asal Papua di bangun maka masyarakat Papua akan melupakan pelanggaran HAM yang menghantui mereka.

Jokowi yang katanya disebut sebagai bapak pembangunan Papua, suara Papua mayoritas untuk Jokowi di periode pertama. Di pemilu 2019, masyarakat Papua pun masih mempercayakan pilihannya pada Jokowi. Bagi pemerintahan, mereka yang inginkan keadilan atas pelanggaran HAM. hanyalah para pemberontak yang di sebut OPM.

Dukungan masyarakat ke OPM di Papua, tidaklah besar. Terutama masyarakat yang dekat dengan kota atau kabupaten. OPM banyak di dukung oleh masyarakat pegunungan.

Jokowi yang juga diberitakan berhasil merangkul masyarakat Papua, namun Jokowi tidak mampu merangkul masyarakat kritis papua yang di wakili oleh OPM dan Mahasiswa. Dan di situlah kekurangan Jokowi. Mengabaikan kritik yang muncul dengan memberikan surga pembangunan yang bagi OPM bukan itu yang utama.

Berbagai kejadian sepanjang tahun 2018 dan 2019 adalah bukti bagaimana pergerakan OPM bukan lagi sekedar ancaman. Puluhan aparat telah mati dan korban sipil pekerja infrastruktur adalah bukti kekejaman OPM.

Ketika permintaan mereka di abaikan, maka cara selanjutnya adalah meminta perhatian dengan cara penculikan yang di akhiri pembunuhan. Proses ini akan mencapai puncaknya ketika masyarakat Papua sudah bisa mereka gerakkan.

Untuk menggerakkan masyarakat Papua, OPM memanfaatkan para mahasiswa Papua yang ada di daerah lain. Mahasiswa Papua adalah gambaran mahasiswa 98 indonesia. Saat mahasiswa saat ini lebih mementingkan kenyamanan, mahasiswa Papua sudah berpikir bahwa mereka adalah tonggak perubahan untuk Papua. Mereka lebih berani, lebih kritis dan menjadi martir perjuangan OPM.

Demo mahasiswa Papua selalu berakhir kerusuhan. Mereka tidak takut akan di tindak seperti pelaku demo di gedung MK, justru mereka meminta di perlakukan brutal oleh aparat keamanan.

Saat mereka di perlakukan brutal, saat mereka di persekusi, saat mereka di intimidasi maka saat itulah cerita bisa di jual ke tanah Papua bahwa mahasiswa Papua mendapatkan tindakan diskriminasi di luar Papua.

"Jika berita itu sampai ke Pace dan Mace Papua, kira-kira mereka akan terima tidak?"

Orang tua mana yang tidak marah saat anaknya mengadu dengan iringan air mata bahwa mereka di perlakukan seperti video yang beredar. Saudara mana yang tidak akan panas, saat mengetahui keluarganya di perlakuan sewenang-wenang.

Dan yang terjadi kemarin, adalah reaksi atas kejadian pada diri mahasiswa mereka. Sebuah skenario cantik antara OPM dan Mahasiswa untuk mendapatkan dukungan publik Papua.

Gubernur Papua, Lukas Enembe, memberikan komentar mengenai pernyataan Presiden Joko Widodo atas kerusuhan yang terjadi di Papua pada Senin, (19/8/2019) silam.

Menurut Lukas, pernyataan Jokowi tidak tegas dan belum bisa mengobati hati warga Papua.

Bahkan, jika aksi persekusi masih terjadi di Indonesia, Lukas mengaku akan menarik semua mahasiswa Papua yang berkuliah di luar Tanah Cendrawasih tersebut.

Sekarang, OPM sudah mendapatkan dukungan dari masyarakat Papua. Mereka inginkan merdeka. Bahkan gubernurnya pun bersikap sebagai jubir.

Ironi Papua..

Suaranya kau ambil
Hasil buminya kau kuasai
Aspirasi mereka tidak pernah kau peduli..

Kata mereka, Papua...di buang sayang. Sungguh terlalu Rezim saat ini. (yd)