Fakta Hebohnya 4 Unicorn Kebanggaan Jokowi Diklaim Milik Singapura

TEKNOLOGI- 02 Agustus 2019 | 09:03:14 WIB | Dubaca : 293
Fakta Hebohnya 4 Unicorn Kebanggaan Jokowi Diklaim Milik Singapura

Jokowi dalam sejumlah kesempatan membanggakan Indonesia memiliki empat unicorn, atau perusahaan rintisan (startup) yang valuasinya di atas US$ 1 miliar. Unicorn yang dimaksud adalah Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Namun, masyarakat sempat dihebohkan oleh kabar bahwa empat unicorn Indonesia yakni Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka diklaim milik Singapura. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Sayangnya, kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong keempat unicorn itu diklaim bukan milik Indonesia berdasarkan riset Google dan Temasek.

Kok bisa?

Mantan Menteri Perdagangan ini awalnya mengaku heran. Karena dalam riset tersebut Indonesia dinyatakan sama sekali tidak memiliki unicorn. Sementara, Singapura tercatat memiliki empat unicorn yang selama ini diketahui milik Indonesia.

"Saya tidak mengerti juga, ada tabel tentang unicorn, Indonesia ada 0 tapi di Singapura ada 4," lanjut Lembong.

Usai ditelusuri, dia menjelaskan, hal tersebut disebabkan investor besar empat unicorn Indonesia memang berasal dari Singapura. "Faktanya adalah 4 unicorn kita, induknya memang di Singapura semua. Uang yang masuk ke-4 unicorn kita, masuknya lewat Singapura," jelasnya.

"Dan sering kali masuknya bukan dalam bentuk investasi, tapi oleh induknya unicorn di Singapura langsung bayar ke perusahaan lewat iklan di Indonesia atau bayar langsung ke vendor atau supplier di Indonesia dari Singapura," ujarnya.

Terdapat sejumlah fakta yang terangkum terkait heboh unicorn Indonesia. Berikut rangkumannya:

1. Traveloka Bantah Berkantor Pusat di Singapura

Traveloka tidak membantah kabar investasi terbesar kepada pihaknya salah satunya berasal dari Singapura. Namun, satu dari empat unicorn di Tanah Air tersebut, menekankan dana investasi dimanfaatkan untuk kemajuan perekonomian Indonesia.

"Investasi dari fundraising kami tentunya disalurkan untuk pengembangan perusahaan Traveloka, sebagai perusahaan rintisan (start-up) asal Indonesia," kata PR Director Traveloka, Sufintri Rahayu.

Dia menegaskan Traveloka adalah perusahaan Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Selain itu, pekerja Traveloka didominasi oleh masyarakat lokal.

"Kantor pusat Traveloka di Jakarta, Wisma 77, Slipi, dan 80 persen karyawan Traveloka dipekerjakan di Indonesia. Jadi tentunya penyaluran investasi tersebut terserap di Indonesia. Jadi ini untuk negara kita tercinta," ujarnya.

2. Tokopedia dan Bukalapak Pastikan Berasal dari Indonesia

Tokopedia menegaskan perusahaannya berasal dari Indonesia. Manajemen tidak membantah kabar investasi terbesar ke salah satu unicorn di Indonesia ini berasal dari Singapura.

"Saat ini, Tokopedia terdaftar sebagai PMA, di mana seluruh perizinan dari BKPM sudah kami dapatkan. Kami juga berkomitmen untuk terus menjadi perusahaan Indonesia dan menaati seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia," ujar VP Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak, saat dihubungi merdeka.com di Jakarta.

Menurut Nuraini, Tokopedia memang memiliki kantor cabang di Singapura. Anak usaha tersebut bergerak di bidang riset dan pengembangan induk usaha di Indonesia.

"Kami tidak mempunyai induk perusahaan di negara lain. PT Tokopedia sejak awal selalu beroperasi di Indonesia," tuturnya.

Investasi ke Tokopedia, lanjutnya, merupakan foreign direct investment (FDI) atau investasi langsung. "Jadi, seluruh investasi yang diterima Tokopedia masuk melalui induk perusahaan kami di Indonesia," tutupnya.

Senada, Bukalapak juga menegaskan bahwa pihaknya lahir dan besar di Indonesia. "Kami sampaikan perusahaan lahir dan besar di Indonesia," ujar Senior Corporate Communications Manager Bukalapak, Gicha Graciella di Jakarta.

Bukalapak tidak mengungkap mengenai investor terbesar mereka. Gicha menekankan Bukalapak memiliki misi untuk memajukan UMKM di Indonesia.

"Tentunya kami ingin menciptakan dampak positif yang seluas-luasnya dengan terus meningkatkan layanan dan jangkauan bisnis kami," tuturnya.

3. Momen Kritik untuk Perhatikan Ekosistem Unicorn Tanah Air

Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan hal tersebut merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah. Menurut dia, selama ini pemerintah belum berhasil menciptakan ekosistem yang baik bagi tumbuh kembang perusahaan rintisan maupun unicorn.

"Ini kan autokritik juga buat pemerintah Indonesia. Karena belum bisa menyediakan ekosistem yang baik bahkan perusahaan lokal saja, mereka berinduknya di Singapura," kata dia.

"Berarti kan dari sisi ini pemerintah gagal untuk menyediakan ekosistem yang terbaik untuk unicorn-unicorn ini," tegas dia.

Menurut dia, masih cukup banyak hambatan bagi perkembangan startup di Indonesia. Beberapa di antaranya berasal oleh pemerintah sendiri. "Agak ironis Pak Jokowi sangat mengagung-agungkan. Tapi sebenarnya bahkan sedikit sekali yang pemerintah lakukan untuk keberlangsungan para unicorn ini. Pemerintah kita selama ini tidak membina ekosistem, belum menjadi ekosistem enabler," ungkap dia.

Dia menambahkan, dalam beberapa kasus, pemerintah malah sangat merintangi pertumbuhan dari unicorn. Salah satunya rencana memajaki e-commerce.

"Seperti kemarin ada Kementerian Keuangan, ada wacana e-commerce juga dipajaki padahal ini platform, dan lain-lain. Intervensi terlalu banyak yang justru saya lihat pemerintah tidak punya concern ke sini," jelasnya. (dn)