Dosen Fikom Unhas Abdul Gafur : Drama Mahkamah Konstitusi Memenangkan Kecurangan

TOKOH- 10 Juli 2019 | 09:08:48 WIB | Dubaca : 123
Dosen Fikom Unhas Abdul Gafur : Drama Mahkamah Konstitusi Memenangkan Kecurangan

Drama Mahkamah Konstitusi
Oleh: Abdul Gafar
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin

Sidang melelahkan menyangkut Pilpres 2019 dinyatakan telah selesai.

Seluruh Hakim Konstitusi dengan suara bulat menolak 21 dalil yang dikemukakan tim hukum Prabowo-Sandiaga (Tribun Timur 28/6/19).

Mahkamah Konstitusi (MK) menyusun laporan hingga ribuan halaman untuk mementahkan tuntutan kuasa hukum 02.

Paslon 02 harus menerima ‘kekalahan’ secara telak menghadapi gempuran dari pihak lain yakni pasangan 01, KPU RI, dan Bawaslu.

Kekalahan ini sudah diprediksi banyak orang bahwa itu akan menjadi kenyataan yang menyakitkan. Kemenangan bagi kubu 01.

Kata Rocky Gerung,"Jangan ngamuk lagi. Gue ucapin selamat. Selamat dimenangkan". Oh Ya ?

Dalam persidangan sudah dapat diperkirakan bahwa pihak 02 akan menelan kekalahan.

Dalil-dalil yang dikemukakan tidak dapat dibuktikan.

Misalnya antara lain tentang adanya money politic, keterlibatan BIN dan polisi dianggap tidak netral, dan dukungan kepala daerah.

Demikian pula adanya tindakan terstruktur, sistematis, dan massif dari pihak 01 tidak dapat dibuktikan tim 02.

Saksi yang diajukan 02 ternyata dianggap lemah dalam pembuktian.

Sebenarnya pihak 02 memiliki ratusan saksi namun dibatasi jumlahnya demi efisiensi.

Pihak 02 menginginkan banyak saksi yang ditampilkan untuk membuktikan bahwa tuduhan mereka benar adanya.

Menu

Drama Mahkamah Konstitusi
Selasa, 9 Juli 2019 21:20

abdul-gafar_20180729_194818.jpg
Abdul Gafar - dokumen Abdul Gafar


Demikian pula adanya tindakan terstruktur, sistematis, dan massif dari pihak 01 tidak dapat dibuktikan tim 02.

Saksi yang diajukan 02 ternyata dianggap lemah dalam pembuktian.

Sebenarnya pihak 02 memiliki ratusan saksi namun dibatasi jumlahnya demi efisiensi.

Pihak 02 menginginkan banyak saksi yang ditampilkan untuk membuktikan bahwa tuduhan mereka benar adanya.


Namun harapan itu tidak dapat dikabulkan oleh majelis hakim.

Waktu yang diberikan juga sangat singkat mempersiapkan bukti dibanding pihak lainnya.

Persidangan harus cepat dan menghasilkan keputusan yang tepat pula.


Para pengamat hukum di luar persidangan juga telah membaca arah putusan yang akan menolak tuntutan paslon 02.

Namun ada juga yang optimis bahwa paslon 02 akan memenangkan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) walaupun faktanya berkata lain. Kalah atau dikalahkan?

Bagi orang awam menginginkan MK melakukan "Terobosan Hukum" dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang ada pada pihak 02.

Dalil-dalil yang dikemukakan memang faktanya ada, namun semuanya terpatahkan oleh keyakinan hakim.

Hal-hal yang di luar kewenangan MK dikesampingkan, karena ada institusi lain yang berhak menanganinya.

MK hanya bermain dalam koridor konstitusi yang berada dalam kewenangannya.

Ada dugaan putusan MK akan terjadi dissenting opinion, ternyata ketika diumumkan hasilnya bulat menolak. Artinya paslon 01 dinyatakan menang atas 02.

"Kami akan mempertanggungjawabkan putusan ini kepada Allah SWT. Tuhan YME. Sesuai amanah Allah dalam Quran surat An-Nisa 158, dan sesuai yang disampaikan oleh pemohon dan pihak terkait", kata ketua MK Anwar Usman (Sindo 28/6).

Penulis tidak dapat mengerti apa hubungan Surat An-Nisa 158 ("tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadiratNya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana") dengan putusan MK?

Adakah salah kutip ayat Sindo ?

Jokowi menyatakan putusan MK itu menandai keberhasilan bangsa Indonesia menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil.

"Rakyat sudah berbicara, rakyat sudah berkehendak, suara rakyat sudah didengar, rakyat sudah menentukan dan telah diteguhkan oleh jalur konstitusi dalam jalan bangsa yang beradab dan berbudaya" (Kompas,28/6). Benarkah ? Ada bukti ? (pen).

Berkaitan dengan kemenangan , ungkapan Prof. Amran Razak menarik: "Hidup tidak mengharuskan kita menjadi pemenang dan yang terbaik, cukup dengan melakukan yang terbaik", maka kita adalah pemenang dan salah satu yang terbaik "Bersyukur". Makin Rusak Saja hukum di Indonesia dikelola oleh Rezim Sontoloyo.. Hahaha………..! (yd)