Siapa Bilang Jokowi Tidak Curang?

MEGAPOLITAN- 04 Juli 2019 | 05:43:33 WIB | Dubaca : 151
Siapa Bilang Jokowi Tidak Curang?

"Tidak benar pula anggapan pemohon bahwa karena mahkamah hanya berwenang mengadili PHPU, maka keadilan yang ditegakkan hanya prosedural. Sebab, secara substantif terhadap persoalan yang bukan perselisihan hasil pemilu telah tersedia jalan hukum, meski bukan dilaksanakan oleh mahkamah," ungkap Manahan Sitompul salah satu Hakim MK (30/6/2019) di Jakarta.

Ada yang nyinyir, menganggap Pilpres curang itu cuma tudingan, kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM) itu cuma isapan jempol belaka. Alasannya, MK telah mengadili dan menolak permohonan dari BPN Prabowo - Sandi.

MK tidak pernah mengeluarkan amar putusan yang menyatakan Jokowi telah memenangkan Pilpres secara jujur, adil, dan terpercaya. Bahkan tidak ada, satupun pertimbangan MK yang menguatkan posisi Jokowi jujur, adil dan terpercaya.

Bahkan, MK menilai pihak Pemohon, dalam hal ini kubu Prabowo-Sandiaga, keliru menilai bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang memeriksa adanya kecurangan yang didalilkan, yaitu kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Hakim Manahan Sitompul di dalam persidangan membeberkan bahwa dalam konteks sengketa pemilu, MK hanya berwenang menyelesaikan perselisihan pemilu.

Itu artinya apa? MK tidak mengadili ihwal kecurangan, artinya putusan MK tidak menegaskan adanya Kecurangan. MK hanya fokus mengadili sengketa PHPU nya (perselisihan hasil pemilihan umum).

Sedangkan ihwal kecurangan itu, sampai saat ini tidak diadili MK. Jelas, kecurangan yang dirasakan rakyat itu telah diadili dan divonis oleh jutaan rakyat yang menyaksikan langsung jalannya persidangan MK.

Bahkan, hingga 2 Juli 2019 Ketua KPU Tegur 12 Provinsi yang Belum Selesaikan Situng. Lantas, itu yang diumumkan KPU Jokowi menang dasarnya apa ? Terus, yang diputus MK menang itu kemenangan apa?

Jadi wajar kan, jika rakyat dan kubu 02 tidak mau kasih ucapan selamat? Masak, Pilpres curang diberi ucapan selamat? Nanti, bukan hanya yang curang, yang memberi ucapan selamat juga bisa kena dosa jariyah.

Apalagi, tanggung jawab moral kami bukan hanya kepada bangsa ini, tetapi juga kepada generasi sesudahnya. Kami, tak ingin disebut sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab mewariskan rezim curang. (tw)