NKRI Dalam Keadaan Darurat

LIPUTAN KHUSUS- 24 Mei 2019 | 05:17:00 WIB | Dubaca : 399
NKRI Dalam Keadaan Darurat

Salah satu alasan bersandarnya kapal perang Australia dan US di Tanjung Priok, serta kapal Perancis super canggih di Tanjung Perak Surabaya secara tidak langsung adalah "psywar power" sekutu dan NATO terhadap RRC dengan para pengusaha Cina yang telah membentengi rezim JKW, karena mereka paham Pemilu kali ini syarat kecurangan yang ditunggangi kepentingan RRC untuk menguasai geopolitik kawasan Asia Tenggara setelah menguasai Srilanka, Maldives, Pakistan, Cambodia, dan Malaysia yang kemudian melawan balik dibawah kepemimpinan Mahathir, namun nilai Indonesia bagi RRC adalah Top Rank di antara tersebut di atas, karena keberhasilan mereka menguasai laut Cina Selatan akan terganggu bila Selat Malaka sebagai jalur utama OBOR (One Belt One Road) tidak bisa dikuasai Cina, maka demi strategi geopolitiknya RRC harus menguasa Indonesia.

Melihat rezim pro Cina yang berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Pemilu curang. Maka kedatangan kapal perang yang tergabung dalam NATO dimaksud untuk mengantisipasi keadaan ini. Termasuk mendaratkan Pesawat tempur NATO di Aceh, yang mengartikan bahwa kapal perang induknya tidak jauh jauh-jauh dari sana, yang pangkalannya memang berada di Singapura. Ada kemungkinan, apabila KPU nekat memenangkan JKW maka Aceh dan wilayah Sumatera lainnya atau provinsi Indonesia yang menang suara Prabowo secara besar, akan memerdekakan diri dengan dukungan NATO, karena JKW tidak punya legitimasi untuk memimpin di 26 propinsi yang menolak dia terpilih kembali, suatu alasan yang sama juga digunakan oleh kubu JKW di 2014 jika mereka kalah wilayah Timur indonesia akan menuntut merdeka.

Mudah dipahami, bahwa konflik internal NKRI sudah bukan lagi antara Prabowo vs "JKW", tetapi perang antara kebatilan dan kebenaran, perang antara kaum DUNGU dan Kaum Akal Sehat, yang diwarnai perebutan Geopolitik.

Di level geopolitik terjadi pertarungan antara sekutu (NATO) vc CHINA. Karena projek OBOR itu bahaya bukan saja untuk Indonesia, tapi untuk Sekutu juga. Ada kemungkinan Sekutu dan NATO tidak peduli dengan bentuk Indonesia atau NKRI, sehingga mereka akan membiarkan dan mempersilahkan Cina ambil Jateng, Jatim dan Bali tapi wilayah lain, terutama kawasan yang bersisian dengan Selat Malaka akan dirangsang untuk memisahkan diri dan merdeka karena Rezim JKW tidak lagi memiliki legitimasi untuk memimpinnya.

Selama daerah yang akan dimerdekakan itu mau jadi proxy sekutu di perang Laut Cina Selatan (karena perebutan selat Melaka merupakan bom waktu yang akan memicu perang LCS). Kondisi ini akan memicu kesadaran atas kesenjangan yang dirasakan oleh penduduk luar Jawa yang selama ini dianak-tirikan karena selalu kalah suara dari penduduk mayoritas yang ada di Jawa sehingga seluruh pembangunan berada di pulau Jawa termasuk pendidikan terbaik, industri dan infrastruktur.

Tuntutan pemisahan diri yang sedikit mengendur dengan adanya otonomi daerah akan kembali marak. Penguasaan asing atas tanah Jawa lebih mudah dilakukan karena Liberalisme sudah lebih dominan, termasuk pesantren dan ulama semisal Ulil Absar, Muhtadi sang jagoan quick qount ala JKW serta Agil Sirad, sedang di daerah sepanjang Selat Melaka Islamnya relatif masih tradisional namun relatif miskin, sehingga lebih sulit ditundukkan dan sekaligus menjadi lawan tangguh liberalisme (Asing) dan komunisme (Aseng). Perlawanan mereka nampak jelas dengan kalah telaknya JKW di kawasan tersebut.

Dulu di jaman Soekarno dan Soeharto mereka paham potensi perpecahan ini, sehingga mereka ikhlas mengalah, hal sama juga dilakukan Prabowo di tahun 2014. Tapi melihat pertarungan Geopolitik saat ini, bila JKW selaku proxy Cina dibiarkan berlanjut maka kolateral damage-nya akan sangat parah dari sebelumnya karena NKRI akan dijajah Cina!! Berbeda dengan kolonial maupun imperialis Barat, yang umumnya hanya mengirim tenaga ahli ekspatriat sedang China akan menguras seluruh pekerjaan mulai dari atas sampai tenaga kuli. Sehingga akan menguras kering NKRI ini.

Polisi tukar menukar pendidikan dengan China. Kader PDIP berangkat ke China. Polisi mengimport senjata kombatan dari Austria legal tapi diam-diam dengan alasan untuk mengamankan Papua dan Poso yang kemudian disita Militer di bawah pimpinan pimpinan Gatot yang tidak diinfo tentang ini. Karena melanggar UU senjata tersebut dititipkan ke Militer. Belakangan, senjata tersebut dikembalikan ke Polisi!

Dan HARI INI Polisi menembaki mesjid dan markas FPI dan membunuh umat dengan pakaian militer dan mirip kombatan. Mereka berwajah China dari foto yang diperoleh. Adakah mereka ini jelmaan angkatan ke 5 yang pernah populer ditahun 65 yang terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai dengan senjata China merk Chung. Disusupkan ke Polisi sebagai alternatif bagi menguasai RI dan mengubahnya menjadi protektorat China. Berita sebelumnya sebanyak 106 Jenderal Purnawirawan TNI berkumpul di hotel Mahakam Jakarta. Mereka mendukung Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat dan akan turun ke jalan di tanggal 22 Mei 2019 mendahului pengumuman yang akan dilakukan KPU di tanggal 25 Mei 2019. Tetapi KPU mengumumkan di tanggal 21 Mei 2019 agar gerakan kedaulatan rakyat di tgl 22 Mei ini dapat dikategorikan sebagai perbuatan melanggar UU dan dicap sebagai makar lalu "di-Tianamen-kan" alias dibunuh habis!!

Menurut ketentuan UU begitu tiga hari sesudah pengumuman KPU dan tidak ada gugatan maka JKW akan resmi dilantik, maka pihak Prabowo terpaksa juga mengadukannya ke MK walaupun tahu akan kalah hanya sebagai usaha "buying time". Menyusul pertemuan 106 orang mantan Jenderal di atas salah satu di antara mantan Danjend Kopassus, yaitu Mayjen (Purn) Soenarko ditangkap karena menyelundupkan senjata melalui Aceh menjelang aksi 22 Mei 2019. Yang dituduhkan diselundupkan adalah senjata tempur standard NATO.

Soenarko merupakan purnawirawan TNI AD lulusan AKABRI pada 1978. Pria kelahiran Medan, 1 Desember 1953, adalah mantan DAN Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup 1 yang berkarir disana begitu lulus dari AKABRI. Soenarko lama bertugas di Kodam Aceh. Adakah hubungan antara mendarat daruratnya pesawat tempur NATO di Aceh karena cuaca buruk.

Kesimpulan sementara, kondisi kita sekarang dalam keadaan Darurat!! Kekuasaan Asing dan Aseng sedang berlaga dalam memperebutkan ruang geostrategis menuju perang LCS baik perang dingin asimetri atau proxy war maupun panas kombatan. Kita tidak memiliki pimpinan yang qualified dan berwawasan luas dan istiqomah.

Kita saat ini tidak tahu mana lawan dan mana kawan di tataran elit. Penduduk seperti buih tidak dapat disatukan menjadi kekuatan. (ut)