Warning: session_start(): open(/tmp/sess_fvj3h5ah7jr1qs3hih2e24gn62, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/beritanu/public_html/reportaseindonesia.com/media1.php on line 3
Apa yang Ketua KPU Lakukan Adalah Permainan Mind Game yang Berbahaya

Apa yang Ketua KPU Lakukan Adalah Permainan Mind Game yang Berbahaya

MEGAPOLITAN- 28 April 2019 | 06:33:10 WIB | Dubaca : 116
Apa yang Ketua KPU Lakukan Adalah Permainan Mind Game yang Berbahaya

Benarkah Komisi Pemilihan Umum (KPU) sedang menjalankan mind games, permainan pikiran? Mereka coba mempengaruhi, memanipulasi rakyat Indonesia, terutama pendukung Prabowo— agar meyakini bahwa pilpres sudah selesai.

Tidak perlu lagi melakukan perlawanan. Para saksi tidak perlu lagi mencermati hasil penghitungan suara. Quick count yg dilansir lembaga survei sudah benar. Jokowi menang & Prabowo kalah?

Metode permainan psikologi untuk memanipulasi & mengintimidasi pikiran orang itu cukup sederhana. Melalui Aplikasi Sistem Informasi Penghitungan Suara atau Situng, KPU memasukkan (entry) data dari daerah² yg dimenangkan Jokowi.

Sebaliknya untuk provinsi yg dimenangkan Prabowo, entry datanya diperlambat. Kalau toh dimasukkan, maka dipilih kota/kabupaten, bahkan kecamatan yg suaranya dimenangkan Jokowi.

Abrakadabra…..! Melalui pemetaan & pemilihan asal suara secara cermat, data yg ditampilkan oleh KPU angkanya bisa persis sama dengan hasil quick count. 54-45 persen.

Spekulasi itu belakangan ini banyak bermunculan di media sosial. Jangan terlalu cepat percaya. Please cek ricek terlebih dahulu.

Untuk membuktikannya silakan buka web resmi KPU & masuk ke aplikasi Situng. Dijamin Anda akan kagum dengan hasil karya para komisioner KPU.

Aneh tapi nyata! Kok bisa-bisanya mereka melakukan hal itu. Tega banget! Menganggap semua orang Indonesia bodoh & bisa dibodohi.

Praktisi public relations Heri Rakhmadi menulis sebuah opini dengan judul “Quick Count, Real Count KPU & Angka Cantik 54%.” Secara satire Heri mempertanyakan mengapa data real count KPU bisa sama persis dengan quick count?

"Setelah menghiasi layar kaca & portal berita, kini angka 54% juga terus menghiasi layar tabulasi real count milik KPU. Tentunya angka 54% ini kembali disematkan kepada Paslon 01, walau sesekali dia dengan centil naik ke angka 55%,”" tulisnya.

Wartawan Republika Harun Husein sudah 2 kali membuat tulisan di akun facebooknya. Tulisan pertama berjudul "Real Count Masih Pilih Data."

Harun menyoroti derasnya data KPU dari Jawa Tengah & Jawa Timur yg diidentifikasi menjadi kantong suara Jokowi. Sebaliknya data dari Jawa Barat & DKI Jakarta, kantong suara Prabowo masuknya beringsut.

"Akibatnya, walaupun data masuk baru sekitar 7,75% dari total 813.350 TPS di seluruh Indonesia, hasilnya klop dengan quick count dari lembaga² survei, seolah sudah distel sedemikian rupa," tulisnya pada Sabtu (20/4) Pukul 23.49.

Harun kembali membuat tulisan kedua dengan judul "Real Count(Masih) Rasa Quick Count.:

"Sampai dengan Senin pagi ini, porsi Jateng di Real Count masih tetap yg terbesar, dengan 2,9 juta suara (13,9%), disusul Jatim 2,28 juta suara (10,9%), Jabar 1,9 juta suara (9,3%), DKI Jakarta 1,2 juta (5,7%). Sedangkan daerah² lainnya jauh tertinggal."

Ketika dibuka pada Selasa malam (23/4) pukul 20.20 WIB komposisinya tidak berbeda jauh dengan yg ditulis Harun. Total prosentase suara yg masuk ke Situng KPU 26%, tapi di tiap² daerah berbeda-beda prosentase masuknya.

Beberapa daerah yg dianggap basis 01, seperti Jawa Tengah & Bali tinggi inputnya. Jawa Tengah sudah 21%, Bali 35%. Sementara basis 02 seperti Jawa Barat baru 11,5%, Banten 15%.

Jakarta yg seharusnya bisa lebih cepat, ternyata data yg diinput baru 26%. Menariknya lagi² data yg diinput terkesan mencurigakan. Wilayah yg diidentifikasi sebagai basis 01 seperti Jakarta Barat sudah 30,7%. Lebih tinggi dari basis 02 Jakarta Selatan 27%, dan Jakarta Timur 20%.

Di Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat tempat Jokowi memilih sudah masuk 49%, Menteng 50%. Namun Tanah Abang basis pendukung 02 baru 9,5%.

Heri & Harun tidak salah. Walaupun keduanya menulis dengan nada bercanda, sedikit ngledek, tapi pesannya sama. Mereka mencurigai data yg dirilis Situng KPU kok “secara kebetulan” mirip dengan hasil quick count.

"Data RC jangan statis seturut QC lah. Dinamis sikitlah, atau sekali-kali zig-zag seperti MotoGP yg ada adegan kejar-kejaran & salip menyalip di tikungan, biar penontonnya antusias tepuk tangan mengelu-elukan jagoannya…," pesan Harun.

Sampai kapan KPU bisa menjalankan skenario mind games? Mempengaruhi pikiran publik agar percaya bahwa hasil quick count benar, & Prabowo kalah?
Sulit bertahan

Bersamaan dengan semakin tingginya data yg masuk, maka dipastikan komposisinya akan berubah. Apalagi bila data dari Jabar yg menjadi basis 02 masuk.

Jangan lupa Jabar memiliki jumlah pemilih terbesar di Indonesia, 17% dari DPT. Data Situng KPU akan berubah sangat signifikan & tak terhindarkan Prabowo menang. Apalagi bila data dari Sumatera & sebagian Sulawesi yg dimenangkan secara mayoritas oleh Prabowo masuk. Skenario permainan pikiran publik itu berantakan.

Sampai disini kita bisa memahami mengapa KPU melakukan "Kesalahan" input data yg sangat konsisten. Suara Jokowi bertambah, & suara Prabowo berkurang.

Polanya sangat baku. Suara Jokowi digelembungkan, & suara Prabowo dikempeskan di ratusan TPS. Itu adalah bagian dari skenario besar kecurangan.

Mereka bekerja secara terstruktur, sistematis, & massif (TSM). Mulai dari perencanaan, sebelum pelaksanaan, pada saat pelaksanaan, & pasca pelaksanaan Pilpres. Apapun caranya, berapapun harganya, Jokowi harus menang!

Bagaimana KPU bisa menjelaskan kasus di TPS 4, Petak Kaja, Gianyar, Bali. Suara Jokowi berubah dari 183 menjadi 1.183, & suara Prabowo hanya 2. Jumlah seluruh suara sah di TPS itu sebanyak 185, jumlah suara tidak sah 4, sehingga total hanya 189 suara, baik yg sah maupun yg tidak sah.

Di TPS 48 Tanah Baru, Depok, Jabar Jokowi 135 suara, Prabowo 114 suara. Suara tidak sah 3 suara, dengan jumlah pemilih 252 orang.

Namun berdasarkan data Situng, suara untuk 01 dicatat 235 suara, dan 02 ditulis 114 suara. Ada penggelembungan 100 suara untuk Jokowi.

Kalau ada waktu silakan buka media online & medsos, dijamin Anda bakal kelelahan & kewalahan karena mendapati "kesalahan" semacam itu. Kasusnya sangat buaanyaaak!

Suara Jokowi menggelembung sampai tambun. Suara Prabowo dikempesin sampai kurus kering.

Dengan jumlah TPS lebih dari 800.000, kalau mereka menambah rata² 10 suara, sudah ada penambahan 8 juta suara, atau sekitar 8% dari suara yg sah.

Kalau mereka bisa menambah 100 suara seperti di Depok, jumlahnya 80 juta. Tambahan suaranya sudah 50%. Kalau 1.000 suara seperti di Bali, jumlahnya mencapai 800 juta suara. Jokowi menang 450%!

Masuk akal? "Kalau mau curang ya sedikit cerdas lah. Mbok sekali-kali, ada suara Prabowo yg digelembungkan," canda mantan Komisioner KPU Prof Chusnul Mariyah. (ut)

BERITA LAINNYA MORE

Warning: Unknown: open(/tmp/sess_fvj3h5ah7jr1qs3hih2e24gn62, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0