Gatot Nurmantyo Cerita Bahwa Prajurit Terbaik TNI Banyak yang Dicopot di Era Jokowi

TOKOH- 13 April 2019 | 10:34:54 WIB | Dubaca : 121
Gatot Nurmantyo Cerita Bahwa Prajurit Terbaik TNI Banyak yang Dicopot di Era Jokowi

Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) hadir dalam acara pidato kebangsaan Capres Prabowo Subianto di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4). Dalam kesempatan pidato, Gatot menyinggung sejumlah perwira tentara yang punya prestasi bagus dicopot tanpa jabatan di pemerintahan saat ini.

"Begitu saya turun maka semua yang terbaik dicabut, kepala badan intelijen strategis, Mayjen TNI Ilyas, dialah yang menyelesaikannya Poso, silakan diskusi dengan siapapun siapa yang menyelesaikan Poso. Tetapi dicopot sampai dengan sekarang tanpa jabatan," ungkap Gatot.

"Termasuk direktur A Komandan satuan tugas intelijen yang membongkar senjata, sekarang dicopot tanpa jabatan, investasi sumber daya manusia di TNI itu adalah jabatan-jabatan tersebut," sambungnya.

Kemudian, kata Gatot, ada Komandan Jenderal Kopassus dan salah satu pangdam yang dicopot tanpa jabatan. Serta Panglima divisi infanteri satu dan dua.

"Dan saya tidak salah menyebutkan orang-orang yang bermasalah menempati jabatan strategis," ucap Gatot.

Selain itu, Gatot menyinggung soal anggaran pertahanan TNI yang masih kecil. Padahal kebutuhan TNI besar sesuai dengan perangkat perangnya.

"Dari segi anggaran pada saat saya menjabat Panglima TNI, saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi saya tak berdaya," ungkap Gatot.

Dia merincikan, anggaran TNI yang personelnya saat ini 455.000 ribu prajurit dari angkatan darat, laut, udara yang hanya mendapat anggaran 6 triliun.

"Ratusan pesawat terbang tempur, mempunyai ratusan kapal perang, ribuan tank dan senjata berat anggarannya hanya 6 triliun lebih sehingga departemen pertahanan dapat 1 triliun, angkatan darat 1 triliun lebih, AL 1 triliun lebih, angkatan udara 1 triliun lebih, dan mabes TNI 900 miliar," tuturnya.

Tetapi, kata Gatot, ada institusi yang tidak punya pesawat tempur, senjatanya pendek dicampur sedikit senjata panjang, dan jumlah personelnya tidak sampai 3000 tapi diberi anggaran 4 triliun.

"Dan kepolisian Republik Indonesia 17 triliun, tidak ada yang salah semuanya benar benar saja, tetapi ini adalah dari segi anggaran mengecilkan Tentara Nasional Indonesia," tandas Gatot. (utw)