Pengacara Sebut Uang Serangan Fajar Koruptor Bowo dari Menteri Kabinet Kerja Jokowi

MEGAPOLITAN- 11 April 2019 | 05:04:44 WIB | Dubaca : 153
Pengacara Sebut Uang Serangan Fajar Koruptor Bowo dari Menteri Kabinet Kerja Jokowi

Pengacara Saut Edward menyebutkan, sumber uang yang berada dalam amplop untuk digunakan Bowo Sidik Pangarso dalam "serangan fajar" pada Pemilu 2019 berasal dari salah satu menteri di Kabinet Kerja Jokowi. Anggota Komisi VI DPR RI itu telah ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus suap pelaksanaan kerja sama pengangkutan bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

"Sumber uang yang memenuhi Rp 8 miliar yang ada di amplop tersebut sudah dari salah satu menteri di kabinet ini," ujar Edward, usai menemani Bowo yang diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/3). Dia pun mengaku hal tersebut sedang didalami oleh penyidik KPK. "Sudah, lagi didalami sama KPK," kata dia.

Namun, ia enggan menjelaskan lebih lanjut siapa sosok menteri yang disebutnya dan juga menteri itu masuk dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) atau tidak. "Menteri itu masuk di TKN atau tidak, saya kurang mengetahui. Partainya juga belum disebutkan. Kami kasih kesempatan kepada penyidik untuk mendalami," kata Edward.

KPK telah mengamankan 82 kardus dan dua boks kontainer yang berisikan sekitar 400 ribu amplop berisi uang yang diduga dipersiapkan oleh Bowo. Dari 82 kardus dan dua boks kontainer itu, terdapat uang sekitar Rp 8 miliar dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu yang telah dimasukkan dalam amplop-amplop tersebut.

Uang tersebut diduga terkait pencalonan Bowo sebagai anggota DPR RI di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II yang meliputi Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Demak. Ia juga menyatakan kliennya memang diperintahkan secara langsung oleh Nusron Wahid menyiapkan 400 ribu amplop untuk digunakan dalam "serangan fajar".

"Dia (Bowo) mengakui secara terus terang memang diperintahkan secara lisan, ketemu berdua di DPR," ujar Edward. Atas bantahan Nusron terkait hal itu, Edward menyatakan itu hak yang bersangkutan.

"Hak beliau untuk membantah itu, tetapi saya bilang ke klien, kalau nanti ada saksi yang mengetahui dia disuruh, akan dihadirkan di sini," kata dia.

Sebelumnya, Edward menyatakan tujuan dibagikan amplop agar masyarakat banyak yang memilih Bowo dan Nusron pada Dapil Jawa Tengah II. Nusron juga tercatat maju caleg dalam Dapil Jawa Tengah II.

Nusron Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa dan Kalimantan DPP Partai Golkar. Nusron juga saat ini menjabat Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I, setelah Bowo Sidik dipecat dari kepengurusan Golkar karena terlibat kasus korupsi.

"Supaya banyak yang memilih mereka berdua karena di dapil yang sama. Bahkan, katanya, yang 600 ribu amplop yang menyiapkan Nusron Wahid, dia (Bowo) 400 ribu amplopnya. Pak Wahid 600 ribu, Pak Bowo 400 ribu amplop," ujar Edward, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (9/4).

Dia juga menyatakan uang yang akan digunakan oleh Bowo Sidik dan Nusron Wahid berasal dari sumber yang berbeda. "Pak Nusron dia punya sumber sendiri, Pak Bowo punya sumber sendiri," ujar dia. (yd)