Ada Apa Dengan Andi Arief dan Mengapa Wanita yang Menemaninya Tidak Diungkap?

MEGAPOLITAN- 08 Maret 2019 | 05:56:31 WIB | Dubaca : 126
Ada Apa Dengan Andi Arief dan Mengapa Wanita yang Menemaninya Tidak Diungkap?

Entah mengapa hal ini tidak Mengejutkan lagi ketika mendapat berita Andi Arif (AA), tertangkap polisi dengan dugaan penyalahgunaan narkoba, di hotel peninsula. Sontak berita ini menjadi trending topic di seluruh jagad dunia maya nusantara. Yang menariknya, karena AA adalah wasekjen partai demokrat pengusung kandidat nomor 02. Otomatis, berita ini langsung jadi gorengan politik kubu petahana. Di sinilah awalnya penulis tergelitik ingin menulis sebuah analisis yg berbeda. Motif apa yang terjadi di balik ini semua.

Bukan hanya karena hal ini menjadi gorengan politik pilpres, tetapi lebih kepada sang aktor AA yang menurut catatan penulis mempunyai ‘question mark’ (pertanyaan besar) melihat manuver gerak politiknya yang sedikit aneh dan perlu analisis mendalam untuk kita cermati. Khususnya dalam hal momen dan timing AA ini melakukan hal tindakan, yang menurut penulis mempunyai misi khusus dan target tertentu. Setidaknya dalam beberapa hal di bawah ini :

Pertama, kita semua tentu masih ingat dgn istilah ‘Jendral Kardus’ yang dikeluarkan AA untuk mendiskreditkan Parbowo pada fase awal membangun koalisi pasangan Pilpres.

Kalau kita cermati, AA mengeluarkan istilah Jendral Kardus ini pas ketika terjadi kebuntuan politik koalisi, dan lagi maraknya isu perseteruan internal di kubu petanaha pasca gagalnya Prof Mahfud MD jadi Cawapres, yang digantikan dengan Prof Ma’ruf Amin.

Seolah ada upaya pengalihan isu dan memperuncing keadaan antara prabowo dan SBY ketika itu. Apalagi, isu konflik internal di kubu petahana dgn dibatalkannya Prof Mahfud MD secara sepihak telah membangun sentimen yang besar di masyarakat. Khususnya bagi masyarakat Jawa Timur, kaum Nahdliyin (Gusdurian), dan akademisi. Disini penulis melihat pola gerak AA ini sedikit liar, dan mencoba merusak konsentrasi isu yang menohok kepada petahana. Dan mencoba mengalihkannya dgn menciptakan konflik baru dgn isu jendral kardus yang menyudutkan Prabowo. Gara2 perkataan ini, AA sempat dilaporkan ke polisi tetapi sampai sekarang tak ada kabar kelanjutannya.

Kedua, yaitu ketika cuitan AA tentang 7 kontainer yang berisikan kertas suara yang sudah tercoblos untuk kandidat petahana.
Kembali cuitan AA menjadi viral kemana-mana.

Disini penulis juga menangkap sesuatu yang krusial yaitu, cuitan ini dilemparkan tepat ketika isu sweeping PKI oleh TNI sedang marak, dan hal ini juga menarik perhatian besar masyarakat. Dimana isu kebangkitan PKI ini sangat sentimentil dan menjurus kepada petahana. Karena, opini yang terbangun selama ini, para anak PKI dan kader PKI berada di kubu petahana.

Di tengah terdesak dengan isu PKI ini, cuitan AA tentang 7 kontainer kertas suara tercoblos, langsung mengalihkan perhatian masyarakat dan beralih kepada isu 7 kontainer. Isu sweeping PKI pun terlupakan.. AA dilaporkan ke Polisi, tapi sampai sekarang tak ada kelanjutannya.

Ketiga, terbaru tentang tertangkapnya AA di hotel peninsula dgn dugaan penyalah gunaan narkoba. Kalau kita cermati kembali, ‘ulah’ tindakan AA ini juga tepat ketika elektabilitas petahana jatuh sampai ke titik yang sangat mengkhawatirkan. Ditambah lagi viral isu penolakan audit forensik terhadap server KPU, tuntutan KPU agar netral, DPT ganda, eksodus besar besaran TKA menjadi pemilih ber KTP, banyak tertangkap tangan E KTP bernama china dan NPWP, pokoknya terkait dengan berbagai masalah di Kemendagri dan KPU, yang tentu saja mengarahkan mata pisaunya kepada petahana, yang dianggap publik memainkan power kekuasaannya untuk intervensi kepada KPU. Tentu hal ini mengundang kemarahan masyarakat dan ketidak percayaan publik kepada pemerintah.

Tentu dengan tertangkapnya AA ini, otomatis juga menjadi trending topic dan viral di dunia maya. Lebih khusus lagi, tertangkapnya AA ini, otomatis juga akan dikaitkan dgn elektabilitas kubu 02. Karena akan dapat digoreng sedemikian rupa oleh kubu petahana, bahwasanya orang di sekitar kubu 02, adalah orang bermasalah dan jahat.

Artinya, penulis menangkap ada sesuatu yg berbeda dalam setiap tindakan AA, dalam melakukan manuver politiknya. Betulkah AA ini berada dikubu nomor 2, karena beliau wasekjend demokrat?
Jujur penulis sangat meragukan ini.

Karena setiap gerakan AA ini, sama sekali tidak berkonstribusi thd elektabilitas kubu 02. Manuver gerak AA justru cenderung merugikan Prabowo. Dan juga cenderung melakukan penyelamatan, pada kondisi genting kubu petahana.

Kalau dalam perspektif inteligent, ada banyak kemungkinan, bisa terjadi. Apakah AA ini agen ganda dgn standar ganda, spinonase, atau planted agent yg sengaja disusupkan kedalam tubuh barisan kubu 02.

Dugaan ini cukup beralasan, karena penulis pernah melihat video dari ceramah Ustad Alvian Tanjung yang mengatakan, bahwa AA ini adalah ‘the young of communist’, atau sederhananya masih keturunan keluarga eks PKI. Penulis tidak tahu dari mana Ustad Alvian Tanjung tahu akan hal ini.

Namun berkaca mata dari historikal sejarah ini, menjadikan kita semua bertanya-tanya tentang manuver gerak AA.
Walaupun AA ditahan polisi, penulis yakin AA akan kembali dilepas, karena target utamanya adalah pengalihan isu, bukan kriminalnya.

Butuh waktu dan pembuktian lebih lanjut akan hal ini agar tetap hati-hati dgn segala bentuk berita dan narasi media, yang tiba tiba viral begitu saja. Karena sekarang tahun politik, dimana berbagai hal bisa saja terjadi, demi terwujudnya sebuah kepentingan politik. (dn)