Mengapa Imlek Harus Dirayakan Secara Meriah di Indonesia? Dan Sempat Dilarang Zaman Orba

HIBURAN- 05 Februari 2019 | 07:28:31 WIB | Dubaca : 185
Mengapa Imlek Harus Dirayakan Secara Meriah di Indonesia? Dan Sempat Dilarang Zaman Orba

Berbicara mengenai tahun baru etnis Tionghoa atau Imlek ini, pastilah selalu identik dengan dekorasi serba merah dan emas. Tak hanya itu, atraksi barongsai dan tarian naga pun menjadi hal wajib yang disaksikan secara langsung.

Semua elemen khas Imlek tersebut belakangan sudah meramaikan beberapa pusat perbelanjaan yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Makna dari perayaan Imlek sesungguhnya adalah pergantian tahun.

Kata Imlek berasal dari dialek Hokkian yang berarti kalender bulan (Im=bulan, Lek=penanggalan). Di luar, perayaan ini lebih dikenal dengan Chinese New Year untuk orang-orang Barat, sementara orang Tiongkok asli menamakannya “Guo Nian” atau “Xin Jia” yang berarti bulan baru.

Tahun ini Imlek jatuh pada 5 Febuari 2019. Karena merujuk pada kalender China yang mengikuti pergerakan bulan, jatuhnya Tahun Baru Imlek tidak pernah tetap. Namun umumnya, terjadi antara pertengahan Januari atau Februari.

Sempat Dilarang di Masa Orde Baru
Di Indonesia sendiri, Imlek menyimpan berjuta sejarah yang tak terlupakan. Jauh sebelum bisa diselenggarakan dengan meriah seperti sekarang, Imlek dulu sempat dilarang.

Hal itu tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Dengan dikeluarkannya Inpres tersebut, seluruh perayaan tradisi dan keagamaan etnis Tionghoa, termasuk Imlek, Cap Go Meh, Pehcun, dan lain sebagainya hanya boleh dirayakan secara tertutup.

Alasan dilarangnya Imlek saat itu, pemerintah tak ingin ada kebiasaan atau kebudayaan Tionghoa, termasuk agamanya karena dianggap berpotensi membuat jarak antara warga asli dan keturunan Tionghoa di Indonesia.

Kebijakan ini pada akhirnya semakin mengukuhkan sentimen anti Tionghoa dalam kehidupan bermasyarakat. Puncaknya, ketika krisis ekonomi 1998 terjadi.

Kala itu, banyak warga Tionghoa yang terpaksa harus eksodus ke luar negeri.

Seharusnya perayaan Imlek di Indonesia tidak perlu dirayakan terlalu berlebihan karena rakyat Indonesia sebagian besar bukan keturunan cina. (dn)