Badai PHK Menerjang Indonesia

EKONOMI- 22 November 2022 | 15:28:41 WIB | Dubaca : 168
Badai PHK Menerjang Indonesia

Menuju akhir tahun 2022, nyatanya Indonesia kembali membuat rakyatnya was-was. Bukan tanpa alasan, pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal kian marak terjadi di tengah perbaikan ekonomi yang harusnya banyak kabar positif menyelimuti masyarakat Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, di saat ekonomi dunia sulit dan banyak negara jatuh ke jurang resesi, Indonesia berhasil menorehkan hasil dan kembali ke level historisnya ke era pra-pandemi yakni di atas 5%.

Lihat saja laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru saja diumumkan, Senin (7/11/2022). Selama kuartal III-2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus 5,72% (year on year/yoy).

Di tengah Indonesia mempertahankan perekonomianya, kenapa BADAI PHK kini sudah terjadi di mana-mana? Bahkan ketika Indonesia mulai menata ekonominya kembali pasca pandemi.

Fenomena PHK memang tidak hanya terjadi di Indonesia, kekacauan ekonomi global penyebabnya. Sehingga membuat banyak perusahaan besar di berbagai penjuru belahan dunia mau tak mau menempuh kebijakan serupa. Misalnya Maersk, Exxon, United Airlines dan Shell di Amerika Serikat (AS), hingga Rolls Royce, Renault, Airbus dan Nissan di Eropa.

Gelombang PHK ini sebenarnya tidak terjadi belakangan saja, melainkan sudah sejak tahun 2020 ketika pandemi menerpa. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia meningkat 1,84% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 7,07% pada Agustus 2020.

Kemudian, Tahun lalu ketika pandemi berangsur terkendali, data tenaga kerja pun membaik. Pada Agustus 2021, jumlah pekerja tercatat 131,05 juta orang atau bertambah 2,6 juta orang dibanding Agustus 2020. Tingkat pengangguran terbuka berkurang menjadi 6,49%.

di tengah isu resesi semakin meluas, namun jika dilihat dari lapangan usaha, ada beberapa sektor yang melesat tinggi dan menurun tajam hingga berujung pada pemutusan hubungan karyawan (PHK).

Untuk diketahui, krisis yang terjadi antara Rusia-Ukraina ini memunculkan krisis yang melanda sektor perdagangan, finansial, energi hingga pangan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dari titik itulah muncul gelombang kedua PHK. Di sektor riil, PHK massal melanda perusahaan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jawa Barat. Data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat ada 73.000 orang yang di-PHK sepanjang Januari-Oktober 2022. Jumlah itu belum termasuk pekerja perusahaan yang tidak tergabung di Apindo.

Sektor teknologi digital, yang selama ini dianggap kalis dari efek pandemi dan mendapat berkah darinya, kini ikutan terpukul efek embargo Barat atas Rusia. Para raksasa teknologi telah memangkas karyawannya, mulai dari Meta, Twitter hingga Microsoft.

Keputusan seperti ini merupakan hal yang biasa terjadi. Kejadian ini juga menjadi dampak dari keputusan bisnis yang belum tepat.

Gaya bisnis startup yang mengedepankan pertumbuhan dengan arus kas negatif tidak akan bisa bertahan. Pada akhirnya, bisnis yang sehat harus punya arus kas yang positif.

Model bisnis startup yang sepenuhnya bergantung kepada dana investor. Modal mereka kemudian dihabiskan untuk segala bentuk promosi dan pemasaran demi menggaet pengguna, yang dikenal dengan "bakar duit".

Bisnis tidak bisa terus-terusan berharap suntikan modal baru terus datang untuk mendanai ekspansi mereka. Subsidi ke konsumen, hanya merupakan cara untuk meningkatkan penguasaan pasar, yang kemudian menjadi fondasi bisnis yang sehat.

Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Baru-baru ini, sejumlah perusahaan startup memangkas drastis jumlah pekerjanya. Terbaru, ada emiten PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Ruangguru di sana.

Mereka harus melakukan operasionalisasi karena keterbatasan modal, tidak bisa lagi bakar-bakar duit, sumber dana dari investornya sudah hampir habis.

Maklum saja era suku bunga murah sudah berakhir. Bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga dengan agresif di tahun ini.

Lihat saja bagaimana bank sentral AS (The Fed) yang menaikkan suku bunga dalam tempo 9 bulan menaikkan suku bunganya sebesar 375 basis poin menjadi 3,75% - 4%. Dalam waktu singkat, suku bunga kredit yang sebelumnya berada di rekor terendah sepanjang sejarah naik ke level tertinggi dalam 14 tahun terakhir.

Artinya, para investor harus membayar mahal jika mengambil kredit investasi. Pendanaan bagi startup-pun seret. Masalahnya di tahun depan situasinya masih sama, bahkan bisa lebih buruk lagi. Kampanye bank sentral menaikkan suku bunga masih belum berakhir guna memerangi inflasi. Suku bunga bisa lebih tinggi lagi, dan resesi hampir bisa dipastikan akan terjadi.

Maka perusahaan startup akhirnya menjaga cash flow supaya tetap sehat. Oleh karena itu, perusahaan memilih melakukan PHK terhadap para karyawan. 

Jika tidak melakukan PHK, beban pembayaran gaji karyawan tentunya akan membengkak, apalagi di tahun depan pemerintah sudah memutuskan kenaikan Upah Minum naik maksimal 10% tahun depan. (utw)