Demokrat Soal Bandara Kualanamu: Bandara Udara yang Dibangun Jokowi Mangkrak, kok yang Ramai Dijual

MEGAPOLITAN- 29 November 2021 | 11:22:34 WIB | Dubaca : 207
Demokrat Soal Bandara Kualanamu: Bandara Udara yang Dibangun Jokowi Mangkrak, kok yang Ramai Dijual

Kepala Biro Perhubungan DPP Partai Demokrat, Abdullah Rasyid turut mengomentari soal keputusan penjualan 49 persen saham Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara ke asing.

Ia mengaku bingung bandara yang ramai mau dijual sementara bandara yang dibangun Presiden Jokowi mangkrak.

Seperti diketahui, dua bandara itu adalah Bandara Kertajati Majalengka, Jawa Barat dan Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman Purbalingga, Jawa Tengah.

"Bandara yang dibangun @jokowi mangkrak, lah kok Bandara yg rame mau dijual. Kita ini bangsa apa?,” tulis Abdullah Rasyid di akun Twitternya @Rasy_Abdullah.

Sebelumnya, Deputi Strategi dan Kebijakan Balitbang DPP Demokrat Yan Harahap menilai penjualan saham Bandara Kualanamu menjadi bukti bahwa keuangan negara tidak dalam kondisi baik.

“Ternyata 49% saham Bandara Kualanamu sudah dijual ke pihak asing. Jika ini benar, jgn2 negara ini sudah bangkrut di tangan rezim ini. Apa begitu?,” kata Yan.

Diketahui, PT Angkasa Pura II melepas kepemilikan saham Bandara Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara, sebesar 49 persen kepada perusahaan asal India bernama GMR Airport Internasional.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyebutkan negara tetap untung dari aksi yang dilakukan oleh anak usaha PT Angkasa Pura II tersebut.

"Angkasa Pura II mendapatkan dua keuntungan, yaitu dana sebesar 1,58 triliun dari GMR serta ada pembangunan dan pengembangan Kualanamu sebesar Rp56 triliun dengan tahap pertama sebesar Rp3 triliun," ujarnya.

Arya mengatakan aksi melepas 49 persen saham itu membuat perseroan tidak perlu mengeluarkan uang sebesar Rp58 triliun untuk pengembangan Bandara Kualanamu, karena proyek pembangunan bandara justru ditanggung oleh mitra.

Menurutnya, dana sebesar Rp1,58 triliun bisa dipakai oleh Angkasa Pura II untuk pengembangan dan pembangunan bandara baru di Indonesia.

"Ini namanya memberdayakan aset tanpa kehilangan aset, bahkan asetnya membesar berkali-kali lipat," jelasnya. (utw)