Mantan Insinyur Tesla dari Indonesia: Harga Mobil Listrik Belum Masuk Akal, Harusnya Setara Avanza

OTOMOTIVE- 18 November 2021 | 03:29:28 WIB | Dubaca : 196
Mantan Insinyur Tesla dari Indonesia: Harga Mobil Listrik Belum Masuk Akal, Harusnya Setara Avanza

Mobil listrik dianggap mampu mengurangi polusi hingga ketergantungan impor BBM. Tapi menurut Niko Questera, eks Insinyur Tesla dari Indonesia, harga mobil listrik di Tanah Air belum masuk akal.

Seperti diketahui, Indonesia tengah gencar-gencarnya mengkampanyekan penggunaan mobil listrik. Beberapa tipe mobil listrik sudah banyak dijual, namun harganya belum ramah di kantong kebanyakan masyarakat Indonesia.

Sebagai contoh, mobil listrik penumpang di Indonesia saat ini dijual oleh Hyundai dan Nissan dengan level Rp 600 jutaan. Adapun DFSK Minibus di angka menyentuh angka setengah miliar.

"Tesla di Amerika murah, di sini aja karena pajaknya (impor) mahal, di sana harganya sepadan BMW seri 3, Mercy C Class paling rendah. Jadi mirip (dengan harga mobil konvensional, Red)," ungkapnya.

"Di sini harusnya sesuai setara sama Avanza kalau mobil. Kalau motor harus seharga dengan Honda BeAT. Kalau di atas itu sudah tidak mungkin masuk akal untuk pemain motor, hoby. Sayang gitu uangnya, toh belum ilegal nyetir mobil, motor bensin," kata dia.

Memang satu hal yang bikin mahal ialah teknologi, khususnya baterai. Beberapa waktu yang lalu, Ketua I Gaikindo Jongkie menyebut kalau mobil listrik yang dijual di Indonesia masih diimpor utuh dari luar negeri. Meski sudah diberikan insentif pembebasan bea masuk, PPnBM, dan Bea Balik Nama belum bisa banyak memangkas harga.

Indonesia harus menarik investor dari luar negeri untuk membangun fasilitas komponen dalam negeri. Dengan meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) bisa membuat harga mobil listrik ini lebih murah.

Masyarakat Indonesia yang saat ini menggunakan mobil listrik merupakan early adaptor yang memiliki kocek tebal.

"Walaupun ada yang beli (mobil listrik saat ini, Red), itu kelas elit yang mau mencoba styling yang baru. Itu juga sudah masuk tapi jumlahnya tidak begitu banyak," jelas Direktur Jenderal Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier beberapa waktu yang lalu. (ut)