Kisah Seorang Artis Besar Saat Menjabat Sebagai Anggota DPR, Nurani Ditengah Keserakahan

MUSIK DAN FILM- 09 Oktober 2021 | 05:40:56 WIB | Dubaca : 172
Kisah Seorang Artis Besar Saat Menjabat Sebagai Anggota DPR, Nurani Ditengah Keserakahan

Suatu pagi Sophan membuka laci meja kantornya, Ia mendapati selembar cek kontan sejumlah 60 juta rupiah. Sophan menanyai satu persatu teman-teman di Gedung DPR itu. Beberapa orang menjawab dengan tersenyum,” Sudahlah, terima saja."

Beberapa lama kemudian, seusai suatu rapat, seorang rekannya memasukkan amplop berisi uang 20 juta rupiah. Lagi-lagi ia dapat jawaban yang sama, "Sudahlah, terima saja."

Hari selanjutnya ia menolak keras pemberian apapun, selain gajinya.

Dan perlahan teman-temannya mulai menjaga jarak dengannya.

Hari-hari berlalu...

Seorang Sophan Sophiaan sulit tidur. Ia selalu gelisah. Ia selalu ingat pesan sang Ayah, ”Bila kelak hidupmu sudah sukses, kau harus mengabdikan dirimu untuk bangsamu."

Namun ia bagai berada di alam yang gersang, tiada kesejukan. Ia tidak tahan dengan lingkungannya dan tidak mampu melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Ia memang telah menjadi orang sukses, seorang aktor papan atas dan seorang produser film.

Malam-malam di kegalauan, sang isteri menganjurkan untuk mengambil keputusan, terus atau berhenti, mengundurkan diri.

Sophan hanya aktif di DPR sekitar 1,5 tahun, resminya dua tahun. Ia mengajukan pengunduran diri dengan alasan kesehatan.
Cek kontan dan uang itu tetap utuh di laci mejanya sampai hari terakhir Sophan mengundurkan diri.

Uang itu terbilang sangat kecil dibanding bila ia mau ikut arus. Ada bermilyar-milyar bila tangannya membuka, menerimanya.

Lalu ia kembali aktif lagi di dunia film.
Ia kembali pada habitatnya. Baginya tidak mungkin menjalani hidup di dua muka, yaitu kemunafikan

"Saya pada akhirnya menyadari saya bukan politisi. Saya manusia biasa yang mempunyai sikap hitam putih, sedangkan politik itu sendiri the art of possibilities. Yang salah bisa dibenarkan, yang benar bisa disalahkan. Saya tidak bisa begitu, salah, ya, salah, benar, ya, benar," itu kata-kata Sophan Sophiaan saat diwawancarai Kompas, Jumat 25 Januari 2002.

Ketika itu, Sophan mengumumkan pengunduran dirinya dari anggota DPR/MPR RI. Sophan adalah anggota DPR/MPR pertama di era reformasi yang berani mengundurkan diri karena tidak setuju dengan sikap politik partainya.

Sebagai anggota F-PDIP yang mendukung proses politik kasus dana nonbudgeter Badan Urusan Logistik (Bulog) yang melibatkan Ketua DPR Akbar Tandjung, Sophan tidak puas dengan sikap Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk menempuh jalur hukum. Sophan menginginkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk mengungkap kasus tersebut.

Sebelum mengundurkan diri, Sophan menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR dengan konsisten. Di tengah suasana rapat-rapat DPR yang selalu molor dan sulit untuk kuorum, aktor dan sutradara kenamaan ini selalu tepat waktu dan rajin. Karena itu, dia pun tidak ragu menegur wartawan yang menyamaratakan semua anggota DPR dengan cap pemalas. "Saya bukan politisi tai kucing," ujarnya.

Sikap Sophan yang lurus, jujur, dan bersih ini bukanlah sikap yang mainstream di DPR, yang penuh dengan kompromi, politik dagang sapi untuk membagi-bagikan kekuasaan. DPR periode 1999-2004 atau DPR era reformasi yang sebenarnya banyak diharapkan menjadi lembaga perwakilan yang membawa aspirasi rakyat, ternyata lebih banyak sibuk dengan urusan perebutan kekuasaan.

Penyelesaian kasus Trisakti-Semanggi, kasus mantan Presiden Soeharto, sebagai tuntutan dari gerakan reformasi nyatanya bukanlah perhatian DPR. Puncaknya saat kasus kasus dana nonbudgeter Buloggate atau yang lebih dikenal Buloggate jilid dua ini mencuat. Sikap DPR, demikian juga dengan F-PDIP, tidak konsisten. Kalau dulu mendukung Pansus Buloggate I yang akhirnya berujung dengan impeachment Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maka untuk Buloggate II fraksi-fraksi di DPR "bersekongkol" untuk tidak membuat Pansus.

Inilah puncak kekecewaan Sophan sebagai seorang politisi terhadap partainya yang akhirnya membuat putra tokoh Partai Nasional Indonesia Manai Sophiaan ini memilih mundur dari Senayan.

Sejak mundur, kiprah Sophan di dunia politik nyaris tidak terdengar lagi. Dia memilih untuk banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan kembali ke dunia akting. Sampai akhirnya meninggal dunia akibat terjatuh dari sepeda motor saat menyemarakkan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di di perbatasan Sragen (Jawa Tengah) dengan Ngawi (Jawa Timur), Sabtu (17/5) pagi.

"Saya ini orang pasrah. Saya orang fatalis. What ever will be will be depend to God," katanya.

Sumber:
1.https://sbsinews.com/nurani-di-tengah-keserakaha/
2.https://amp.kompas.com/nasional/read/2008/05/17/16151245/nasional. (utw)