Presdir HDC Sukoco Halim: Indonesia Green Hypercloud Data Center Berpotensi Tumbuhkan Industri IT

TEKNOLOGI- 28 Juni 2021 | 15:40:44 WIB | Dubaca : 359
Presdir HDC Sukoco Halim: Indonesia Green Hypercloud Data Center Berpotensi Tumbuhkan Industri IT

PT Harrisma Data Citta (HDC) telah memulai proyek pengembangan pusat datanya dengan melakukan seremonial Ground breaking pada Senin tanggal 28 Juni 2021. Proyek ini mendapatkan fasilitas pinjaman senior berjangka dari PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) yang telah ditandatangani dan efektif di akhir Mei 2021. Nuevo Asia Capital Pte Ltd (NAC) bertindak sebagai financial advisor yang berperan dalam mengatur transaksi antara HDC dan IIF.

Proyek Pusat Data Skala Hiper adalah proyek fasilitas pusat data premium milik HDC yang akan dibangun oleh PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk (PTPP) sebagai main contractor di atas lahan seluas 17.289 meter persegi berlokasi di Jl. Science Boulevard Raya A1B, Kawasan Industri Jababeka, Bekasi. Desain dan konsep gedung akan menekankan pada desain fasilitas zero downtime, efficient data center dengan PUE <1.5, dan konsep green building yang sejalan dengan tren permintaan saat ini untuk konsep pusat data efisien dan hijau dalam menciptakan lebih banyak nilai untuk keseluruhan kinerjanya.

Pengembangan proyek sendiri akan terdiri dari tiga (3) tahap dengan total kapasitas hingga 3.000 rak dan fasilitas spesifikasi (sertifikasi) Tier III.

Fase 1 - Pembangunan Gedung Pusat Data dengan total luas bruto 20.057 meter persegi dalam struktur 3 lantai dan kapasitas fit-out mencapai 3,5MW untuk daya TI di lantai 1 Gedung Pusat Data.
Fase 2 - Pembangunan Pusat Data infrastruktur dengan kapasitas data sebesar 7MW ruang komputer TI di lantai 2 Gedung Pusat Data.
Fase 3 - Pembangunan Pusat Data infrastruktur dengan kapasitas data sebesar 7MW ruang komputer TI di lantai 3 Gedung Pusat Data.

HDC telah menunjuk IIF dan NAC sebagai Joint Mandated Lead Arranger yang rencananya akan mengatur dan mencari pembiayaan sindikasi untuk mendanai pengembangan lebih lanjut fase dua dan fase tiga dari Proyek ini di kuartal empat 2021.

Sukoco Halim selaku President Director dari HDC menjelaskan," Pengembangan Proyek Hyperscale Data Center merupakan respon HDC atas potensi pertumbuhan industri Data Center yang sangat besar di Indonesia karena masih besarnya gap antara supply dan demand. Indonesia sebagai negara terpadat keempat di dunia juga merupakan perekonomian terbesar di kawasan Asia Tenggara,".

Dalam pembangunan data center ini HDC memiliki 5 objective utama yakni :
Sistem keamanan tingkat dunia dengan penerapan 7 lapis proses yang berbasis biometric, artificial intelligence dan touchless system.
Rancangan Gedung dan fasilitas data center yang berbasis ramah lingkungan
Tingkat Efisiensi yang optimal dengan target PUE average operasi di angka 1.3
Jaminan kehandalan daya listrik tanpa downtime (zero downtime)
Dan netralitas dengan dukungan lebih dari 20 network access provider secara langsung.

Riset pasar baru-baru ini menunjukkan bahwa hal itu telah menjadi pusat perhatian karena meningkatnya adopsi cloud mendorong lebih banyak investasi pusat data berskala besar dalam beberapa tahun terakhir.

Permintaan fasilitas meningkat secara eksponensial dengan 150 juta orang Indonesia diharapkan dapat mengakses internet pada tahun 2023 dan 20 juta pengguna media sosial baru ditambahkan dalam dua tahun terakhir. Visi Go Digital dan Industri 4.0 Pemerintah juga kemungkinan akan mendorong kebutuhan akan lebih banyak pusat data, karena satu juta nelayan dan petani akan diberikan dukungan online dari ribuan perusahaan rintisan teknologi bersama dengan upaya untuk mendigitalkan delapan juta UKM.

Selain itu, industri Pusat Data sebagian besar didorong oleh subset dari basis pelanggan yang ada: cloud publik dan penyedia platform seperti e-commerce dan tuntutan UKM untuk solusi penyimpanan berbiaya rendah. Semakin banyak perusahaan yang meninggalkan server fisik in-house demi cloud hosting.

Pandemi tahun 2020 juga telah mempercepat perubahan dalam strategi TI perusahaan, karena perusahaan dengan cepat beralih ke cloud. Kelanjutan dan optimalisasi pergeseran ini akan berlanjut selama beberapa tahun ke depan, menciptakan penekanan lebih lanjut pada ketersediaan layanan cloud dan konektivitas di seluruh platform. (ut)