Terdapat Tokoh Lain di Balik Praktik Korupsi Ekspor Benur, Apakah MEN-KKP Edy Prabowo Dijebak?

NASIONAL- 10 Januari 2021 | 05:44:19 WIB | Dubaca : 151
Terdapat Tokoh Lain di Balik Praktik Korupsi Ekspor Benur, Apakah MEN-KKP Edy Prabowo Dijebak?

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu mengungkap siapa saja pemain yang terlibat dalam praktik kongkalikong eksportasi benih lobster alias benur.

Pasalnya, kuat dugaan masih ada sosok atau tokoh penting lainnya, yang terlibat dalam merancang praktik lancung ekspor benur yang kemudian menyeret eks Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo ke penjara.

Kecurigaan tentang tokoh-tokoh lain dalam perkara itu diungkapkan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI), Boyamin Saiman, saat berbincang di chanel Youtube milik wartawan senior, Karni Ilyas. Boyamin menyatakan sosok atau tersebut berasal dari kalangan terpandang. Sosok itu ikut dalam pertemuan pada Mei 2020 lalu.

"Ini tokoh dari luar kementerian [KKP], saya menghormati dari sisi keilmuannya, lebih senior dan keilmuannya bukan di bidang ekonomi," kata Boyamin dikutip, Sabtu (9/1).

Pertemuan yang dihadiri tokoh tersebut, kata Boyamin, bahkan khusus membahas tentang pengangkutan ekspor benih lobster. Seperti diketahui, pengangkutan eksportasi lobster hanya dilakukan melalui satu pintu, yakni PT Aero Citra Kargo atau PT ACK.

PT ACK, menurut Boyamin, adalah perusahaan yang telah mati. Tetapi kemudian diambil alih oleh pejabat-pejabat di KKP, termasuk Edhy Prabowo, untuk memuluskan niat mengeruk keuntungan dari eksportasi benur.

Sementara itu, pihak yang sebelumnya memiliki PT ACK, tak mempersoalkan pengambilalihan tersebut dan menjalankan bisnis pengangkutanya di PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) seperti biasa.

"Ya udah diambil, Siswandi, pemilikya tetap menjalankan logistiknya itu PT PLI dan biasa, selama ini sudah jalan forwardernya," jelasnya.

Singkat kata, karena ada yang ingin mengeruk keuntungan, maka PT ACK kemudian diambil, ongkos untuk pengiriman melonjak menjadi 1.800 per ekor. Sementara Siswandi kebagian Rp350.

"Nah dari Rp350 per ekor itu, Siswandi dipotong Rp25 per ekor oleh oknumnya itu," jelasnya.

Data Bea Cukai menunjukkan dalam periode Juni – November 2020 jumlah benih lobster yang telah diekspor sebanyak 43 juta ekor. Importir terbesar benih lobster asal Indonesia adalah Vietnam sebayak 42,18 juta ekor, 84.226 ekor benih diekspor ke Hongkong, dan sebanyak 20.185 ekor benih diekspor ke Taiwan.

Artinya jika harga angkut satu ekor lobster senilai Rp1.800, jumlah penerimaan yang didapatkan oleh PT ACK dalam eksportasi benih lobster bisa mencapai Rp77,4 miliar dari ekpsor tersebut.

PT ACK berlokasi di Great Western Resort Blok AA2 No.22, Kota Tangerang, Banten. PT ACK memiliki modal dasar senilai Rp4 miliar dengan jumlah saham sebanyak 4 juta lembar. Sementara modal yang ditempatkan sebanyak 1 juta saham dengan nilai Rp1 miliar atau harga per lembar saham sebanyak Rp1.000.

Posisi Direktur Utama PT ACK dijabat oleh Amri dengan penguasaan saham senilai Rp416,5 juta. Jumlah saham serupa juga dimiliki oleh Achmad Bahtiar yang menjabat sebagai komisaris. Dua orang ini diduga sebagai nominee dari eks Menteri KKP Edhy Prabowo.

Selain keduanya, pemegang saham lain yang tercatat sebagai pemegang saham dalam dokumen tersebut adalah Yudi Surya Atmaja dengan total kepemilikan sebanyak 167.000 lembar saham atau Rp167 juta. Sementara Lutpi Ginanjar yang tercatat sebagai direktur tak memiliki saham sepersenpun di PT ACK.

"Ya semoga ini didalami KPK, supaya foto tokoh ini bisa clear lah, kalau soal foto dan dokumen gampang," jelas Boyamin.

Jawaban PLI

Sementara itu, pihak PLI dalam surat jawabannya kepada Bisnis belum lama ini menegaskan PT Aero Citra Kargo memiliki badan hukum tersendiri dan tidak memiliki hubungan kepemilikan dengan PT Perishable Logistics Indonesia.

Hubungan PT Aero Citra Kargo dan PT Perishable Logistics Indonesia terjadi berdasarkan Perjanjian Kerjasama Nomor: 400201/39/AGR/ACK-PLI/VI/2020 yang ditandatangani pada tanggal 11 Juni 2020.

PT Aero Citra Kargo selaku perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengurusan transportasi menunjuk PT Perishable Logistics Indonesia untuk membantu proses pengurusan dan pengiriman ekspor barang benih benih lobster.

Adapun penentuan harga jasa hingga mekanisme teknis pengiriman barang benih baby lobster telah ditentukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan PT Aero Citra Kargo. Sehingga PT Perishable Logistics Indonesia sebatas menjalankan perintah tersebut.

PT Perishable Logistics Indonesia adalah salah satu lini bisnis PT Anugerah Tangkas Transportindo yang kemudian lebih dikenal sebagai ATT Group, perusahaan lokal yang memberikan layanan logistik nasional-internasional terpadu bersertifikasi internasional dengan penerapan prinsip Good Corporate Governance.

Ralam catatan KPK, sengkarut soal ekspor benur bermula pada 14 Mei 2020. Saat itu Edhy Prabowo menerbitkan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster.

Surat keputusan tersebut menunjuk Andreau Pribadi Misata selaku staf khusus Menteri juga sebagai Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) dan Safri sebagai Staf Khusus Menteri sekaligus menjabat selaku Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence).

Salah satu tugas dari tim ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur. Selanjutnya, pada awal bulan Oktober 2020, Suharjito selaku Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPP) datang ke kantor KKP di lantai 16 dan bertemu dengan Syafri, staf khusus Menteri KKP.

"Dalam pertemuan tersebut, diketahui bahwa untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT ACK (Aero Citra Kargo) dengan biaya angkut Rp1800/ekor," ungkap Wakil Ketua KPK Nawawi Pamolango dalam konferensi pers, Rabu (25/11).

Untuk memperlancar eksportasi benih lobster tersebut, PT DPP diduga menransfer sejumlah uang ke rekening PT ACK dengan total Rp731,5 juta. KPK juga menemukan uang yang masuk ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan masuk ke rekening Amri dan Ahmad Bahtiar masing-masing dengan total Rp9,8 miliar.

Tak hanya itu pada tanggal 5 November 2020, diduga terdapat transfer dari rekening Ahmad Bahtiar ke rekening salah satu bank atas nama Ainul Faqih selaku staf khusus istri menteri Edhy sebesar Rp3,4 miliar yang diduga untuk keperluan Edhy Prabowo, istrinya IIs Rosyati Dewi, Syafri, dan Andreu Pribadi Misata.

Sejauh ini Bisnis belum berhasil menemukan kontak pihak-pihak yang terkait dengan PT ACK, termasuk PT PLI yang disebut oleh KPK memiliki peran dalam pembentukan PT ACK.

Sementara itu pihak Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) memastikan bahwa dari sisi administrasi, eksportasi benih lobster sudah memenuhi ketentuan. Termasuk keberadaan PT ACK yang merupakan perusahaan ekspedisi yang mengangkut benih lobster ke luar negeri.

"Biasanya kalau sudah melakukan ekspor itu tercatat di sistem kita," kata Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga DJBC Syarif Hidayat melalui seorang stafnya.

Apakah menteri KKP Edy Prabowo Dijebak dalam kasus korupsi ekspor benih lobster ini? Para mafia telah merajalela di seluruh Kementerian era rezim Jokowi dan hanya satu partai besar yang diuntungkan dengan segala kasus korupsi yang telah banyak menjerat kadernya itu. (ut)