Era Mobil Listrik, Industri Otomotif Jepang di Indonesia Bisa Kehilangan Daya Saing

OTOMOTIVE- 05 Januari 2021 | 11:27:43 WIB | Dubaca : 164
Era Mobil Listrik, Industri Otomotif Jepang di Indonesia Bisa Kehilangan Daya Saing

Peralihan cepat industri otomotif Jepang ke teknologi listrik telah membuat khawatir produsen otomotif. Sebelumnya, Jepang telah berencana menghentikan penjualan mobil dengan mesin konvensional pada 2030.

Hal ini dilakukan karena tren kendaraan listrik yang mulai mengakar di seluruh dunia. Beberapa negara di Eropa, seperti Inggris dan Belanda juga telah melarang mobil bermesin konvensional pada tahun tersebut.

Terlebih revolusi kendaraan listrik telah memberi produsen mobil AS Tesla kapitalisasi pasar yang lebih besar daripada Toyota Motor. Sementara perusahaan China seperti CATL telah memimpin pasar untuk baterai EV.

Langkah ini rupanya mendapat kritikan dari sejumlah eksekutif merek otomotif Jepang. Presiden Toyota Akio Toyoda, yang menjadi ketua Asosiasi Produsen Mobil Jepang, mengatakan, peralihan cepat ke kendaraan listrik dapat melumpuhkan industri mobil.

Untuk diketahui, produsen otomotif Jepang berhasil menghasilkan jutaan mobil yang menggunakan mesin bakar internal tiap tahunnya.

Menurut Toyoda, peralihan dari mesin bertenaga bensin ke kendaraan berteknologi listrik dinilai terlalu tergesa-gesa.

Langkah ini rupanya mendapat kritikan dari sejumlah eksekutif merek otomotif Jepang. Presiden Toyota Akio Toyoda, yang menjadi ketua Asosiasi Produsen Mobil Jepang, mengatakan, peralihan cepat ke kendaraan listrik dapat melumpuhkan industri mobil.

Untuk diketahui, produsen otomotif Jepang berhasil menghasilkan jutaan mobil yang menggunakan mesin bakar internal tiap tahunnya.

Menurut Toyoda, peralihan dari mesin bertenaga bensin ke kendaraan berteknologi listrik dinilai terlalu tergesa-gesa.

Toyoda juga mengatakan, struktur industri Jepang selama ini didasarkan pada produksi kendaraan konvensional. Hal ini bahkan telah menjadi pendorong di kala ekonomi tengah sulit.

Di samping itu, sebagian besar listrik Jepang saat ini masih dihasilkan dengan membakar fosil. Tentu hal ini masih jauh dari rencana jangka panjang zero emission.

"Saya tidak dapat melihat ini tercapai tanpa inovasi teknologi yang inovatif," ujar Toyoda, seperti dilansir dari Nikkei (30/12/2020).

"Dan kita dapat mengambil risiko kehilangan daya saing internasional kita kecuali jika seluruh rantai pasokan mencoba untuk beralih," katanya.

Indonesia yang saat ini pasar otomotif nya dikuasai oleh mobil dari Jepang, akan sangat berpengaruh berubah saat mobil listrik marak. (utw)