Menyingkap Misteri Kampung Janda di Bogor

HIBURAN- 05 Januari 2021 | 11:08:20 WIB | Dubaca : 165
Menyingkap Misteri Kampung Janda di Bogor

Namanya Desa Ciburayut, terletak di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa itu juga kondang disebut sebagai Desa/Kampung Janda.

Para janda itu pun berkerja untuk menafkahi anak-anak mereka, sebagiannya menjadi penambang pasir dan sebagian lain sebagai perajin besek.

Kehidupan mereka terlihat sangat sulit. Anak-anak mereka umunnya hanya lulus Sekolah Dasar (SD), dan tak sedikit anak-anak itu membantu orantuanya bekerja.

Melihat kondisi itu, tak sedikit pegiat sosial yang ingin membantu melalui donasi.

Mengapa begitu banyak janda?
Lantas, mengapa begitu banyak janda di desa tersebut, apakah tak ada laki-laki lain yang mau mengawini mereka, atau enggan menopang mereka secara ekonomi.

Beberapa fakta kemudian coba dikupas, seperti yang terangkum dibawah ini. Beberapa fakta itu adalah;

Hampir separuh penghuni kampung adalah janda
Sekiranya warga kampung tersebut ada 67 kepala keluarga yang setengah di antaranya berstatus janda. Sebagiannya adalah janda-janda muda berusia belia.

Rata-rata menjanda karena ditinggal mati suaminya
Sebagai kawasan pedesaan yang berada di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango, menjadikan para lelaki lelaki di sana bekerja menjadi penambang pasir, baik dari menggali dan menyaring pasir, hingga pemecah batu, untuk menghidupi keluarganya.

Namun seringnya terjadi longsor di lokasi penambangan, membuat para pekerja itu kebanyakan meninggal dunia dan meninggalkan istri dan anak-anaknya.

Janda muda yang berterbaran
Sebagian janda-janda di kampung itu ternyata masih berusia belia, atau janda muda. Mereka menikah muda sekira 16 tahun yang tentunya secara mental belum siap berumah tangga. selain karena ditinggal suami meninggal di penambangan pasir, janda-janda muda ini juga menyandang status sebagai janda cerai.

Kurangnya perhatian pemerintah
Kampung janda di Bogor ini menyimpan banyak permasalahan yang tentunya perlu diperhatikan dan diperbaiki oleh pemerintah daerah, mulai dari perekonomian, lapangan pekerjaan, hingga pendidikan. Hal itu sesuai dengan Pasal 78 RUU Ketahanan Keluarga.

Jika pendidikan disana sudah membaik, lapangan pekerjaan tersedia banyak, dan tentunya nilai ekonomi warga akan membaik.

Lokasi penambangan pasir yang terkenal angker
Banyaknya penambang galian Loji, tambang karst yang menjadi korban reruntuhan galian di Kampung Panyarang, Desa Ciburayut, itu membuat Muhidin (40), urung menjadi penambang pasir.

Muhidin mengaku ingin beralih profesi ketimbang menjadi penambang pasir di kawasan yang mulai terkenal angker itu.

Ia juga tak ingin istrinya jadi janda, karena sudah banyak sekali kejadian di tambang itu. Sebelumnya, sang istri juga kerap memperingatkan akan bahayanya menambang pasir di kawasan iitu.

Istrinya, Mirda (27), mengaku trauma karena tetangganya ditinggal suami akibat longsoran tambang pasir tersebut.

Meski demikian, sedikit yang sepemikiran dengan Muhidin maupun Mirda, karena penambangan pasir itu boleh jadi menjadi salah satu mata pencarian umum di kampung tersebut.

Karenanya, upaya pemerintah setempat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Kampung Janda nampaknya perlu sesegera mungkin dilakukan.

Berapa jumlah janda di Indonesia?
Jika berbicara soal janda, dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 5 tahun terakhir, jumlah janda di Indonesia terus meningkat. Data-data itu terkumpul dari Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama.

Sebab perceraian rumah tangga itupun beragam, mulai dari ditinggal pasangan, KDRT, atau pasangan yang suka mabuk-mabukan. Sebagian gugatan memang lebih banyak dilakukan oleh pihak istri.

Dari data tersebut jelas terlihat bahwa peningkatan perceraian rumah tangga berbandig lurus dengan sebab-musabab perceraian.

Pada 2019 jumlahya mencapai nyaris setengah juta pasangan yang berpisah, atau 485.000 pasangan. Padahal pada 2015 angkanya masih tercatat 353,8 ribu pasangan.

Sementara terkait pandemi Covid-19, ada sekira 2.000 janda baru di Serang, Banten.

Dalam catatan pihak pengadilan, jika dibandingkan tahun lalu jumlah kasus perceraian ini meningkat dengan berbagai alasan, dan yang terbanyak akibat latar belakang ekonomi yang menyusut drastis selama pandemi Covid-19. (tw)