Jenderal Gatot Ungkap Dicopot Jokowi Hanya Karena Gelar Nobar Film G30S/PKI

KABAR HANKAM- 23 September 2020 | 06:19:15 WIB | Dubaca : 173
Jenderal Gatot Ungkap Dicopot Jokowi Hanya Karena Gelar Nobar Film G30S/PKI

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) periode 2015-2017, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengisahkan mengapa ia dicopot dari jabatannya di penghujung 2017. Padahal, ia harusnya masih berkarier di TNI sampai masa pensiun akhir Maret 2018.

Secara tiba-tiba, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencopot Gatot dengan mengirim surat ke pimpinan DPR agar digantikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto. Pun mutasi terakhir yang diteken Gatot akhirnya dibatalkan oleh Hadi.

Menurut Gatot, penggantian posisi pucuk pimpinan TNI terjadi lantaran ia bersikukuh menginstruksikan seluruh jajaran TNI untuk memutar atau menonton film Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) pada 2017. Keputusan Gatot kala itu memang mengagetkan banyak pihak.

"Saya perintahkan jajaran saya untuk menonton G30 SPKI. Pada saat itu saya punya sahabat dari salah satu partai, saya sebuat saja PDIP. Pak Gatot hentikan itu, kalau tidak, pasti Pak Gatot akan diganti. Saya bilang terima kasih, justru saya gas karena ini adalah benar-benar berbahaya. Dan benar-benar saya diganti," kata Gatot di Chanel YouTube Hersubeno Arief, Selasa (22/9).

Gatot mengatakan, dia telah menduga adanya gerakan kebangkitan PKI sejak 2008 silam. Pada saat itu, dia mengatakan, ada banyak sekolah-sekolah meniadakan pelajaran tentang PKI. Dia mendapat informasi kebangkitan PKI ini, namun Gatot memilih untuk merahasiakan.

"Memang gerakan ini tidak bisa dilihat bentuknya, tetapi dirasakan bisa. Sejak 2008 itu, seluruh sekolah, pelajaran tentang G30 S PKI ditiadakan. Sehingga pada 2017, 90 persen generasi muda tidak percaya adanya PKI," papar Gatot Nurmantyo.

Gatot menjelaskan bahwa, gerakan PKI gaya baru semakin nyata saat ini. Hal itu dilihat dari digantinya Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni.

Faktanya menurut Gatot, Pancasila pada 1 Juni ini adalah konsep Trisila dan Ekasila yang disampaikan Bung Karno. Diusulkannya Rancangan Undang-Undang Halauan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang saat ini prosesnya dihentikan, bukan dicabut juga menandakan adanya kekuatan yang ingin mengganti Pancasila.

"Maka mereka sudah investasi lebih dulu, jadi mereka secara tidak langsung hampir seluruh bangsa memperingati Hari Pancasila pada 1 Juni. Dan lebih lanjut lagi adanya RUU HIP," kata Gatot. (utw)