Waspadai Revolusi Mental ala Neo Komunis

FOKUS PERISTIWA- 23 September 2020 | 06:08:39 WIB | Dubaca : 256
Waspadai Revolusi Mental ala Neo Komunis

Publik tiba-tiba dikejutkan oleh pernyataan Grace Natali, ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yg tidak ada hujan tidak angin menyatakan dalam pidato di hari ulang tahun Partainya ( PSI), "bahwa diri dan partainya anti agama,".

Publik tidak hanya terkejut tapi juga tersadar, bahwa ternyata ada gerakan anti agama sedang berlangsung di negeri ini.

Kita tidak memgetahui apakah PSI ini puncak gunung es dalam gerakan ini, alias ada gerakan bawah tanah yg lebih besar tapi tidak terdeteksi.

Untunglah Grace Natali bicara seperti itu, sehingga umat Islam tersadar bahwa ada sesuatu yg sedang bergerak dibawah tanah.

Disini PSI melalui Grace Natali telah menyatakan partainya sebagai partai idelogis yg anti pada agama..benarkah begitu? ya tentu karena apapun alasannya PSI telah berani menyatakan penolakannya terhadap persoalan yg paling sensitip, yaitu tentang perda agama, tentang busana muslim, tentang sesuatu yg berbau agama lainnya.

Menurut Natali, alasan intoleransi, diskriminatif yg disebabkan alasan agama adalah pokok gerakan PSI tersebut ketika mereka terpilih dalam pileg nanti.

Hal itu berarti bila PSI atau tokoh yg didukungnya berkuasa kelak, maka langkah ekstrim mungkin akan dilakukannya.

Seperti mungkin akan melakukan mutasi besar-besaran kepada guru/ kepala sekolah negeri yg menurut dugaannya telah memaksakan busana tertentu kepada murid-muridnya.

Kita tidak tahu Partai jenis apa PSI ini, apakah merupakan turunan dari partai yg telah dilarang tahun 1966 atau apa.

Untuk mengetahuinya kita hanya bisa melihat langkah2 dan pernyataan apa yg akan mereka ambil berikutnya.

Gerakan anti agama ini mirip Revolusi mental yg dicanangkan DN Aidit ( ketua CC polit biro PKI) yg gagal melakukan gerakan 30 september 1965.

Revolusi mental itu sendiri adalah jargon Komunis yg dicanangkan dari sejak Karl Marx hinģga DN Aidit.

Pengertian dan tujuan revolusi mental menurut Karl Marx dan DN Aidit adalah anti agama, karena agama dituduh sebagai penghambat kemajuan, harus ada perubahan main set ( pola pikir) dalam masyarakat, yaitu harus melepaskan masyarakat dari kungkungan agama.

programnya pun mengarah menghilangkan peran agama.. bukan saja dalam kehidupan bernegara tapi juga ikut campur dalam kehidupan masyarakat.

Seperti misalnya yg pernah terjadi di zaman Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, melarang motong qurban disekolah, melarang jilbab di sekolah negeri.

Bebas mencela dan mencerca agama seperti Sukma yang mengata ngatai konde lebih bagus dari jilbab, atau Mega yang mengatakan tidak percaya akherat, dan lainnya.

Cara pelemahannya bagaimana? Bisa dilakukan dengan mendorong melalui tangan kekuasaan, misal mengadu domba antar agama atau antar mazhab sesama agama, politik pecah bambu ( yg satu diangkat yg satunya lagi diinjak) yg tujuan utamanya untuk melemahkan, hingga akhirnya setelah lemah akan mudah dibelenggu dan dikuasai.

Bahkan demi revolusi mental, DN Aidit dengan alasan revolusi mental tersebut mengganti namanya sendiri dari AHMAD menjadi DN Aidit.

Karena agama dianggapnya sebagai candu ( narkoba) dan karenanya itu harus dimusnahkan, dan karena itu pulalah dia rela mengganti namanya sendiri demi ideologinya itu .

Bila sudah begini apa yang harus muslim Indonesia bisa lakukan? Maka bila diibaratkan seekor ular berbisa "Sebaiknya biarkan saja kemana ular itu akan merayap.. sekarang dia baru mendesis, tapi bila nanti kepalanya sudah mulai mendongak dan hendak mematuk, maka disaat itulah waktu yang tepat untuk menebasnya!". (ut)