Rocky Gerung: Butuh Psikolog untuk Jelaskan Isi Kepala Jokowi dengan Segala Pernyataanya

TOKOH- 21 September 2020 | 07:59:28 WIB | Dubaca : 190
Rocky Gerung: Butuh Psikolog untuk Jelaskan Isi Kepala Jokowi dengan Segala Pernyataanya

Pengamat politik sekaligus ahli filsafat, Rocky Gerung kembali mengkritik kebijakan Presiden Jokowi terkait perbaikan ekonomi di tengah pandemi. Kali ini, Rocky menyoroti ucapan Jokowi mengenai "tenggat waktu pemulihan" yang dirasa terlalu mengada-ada dan di luar kemampuan negara.

Sebelumnya, Jokowi mengatakan, pemerintah masih memiliki waktu dua minggu lagi atau hingga akhir September untuk mendorong pertumbuhan ekonomi agar Indonesia tak terperosok ke jurang resesi. Ungkapan tersebut yang kemudian menjadi sorotan Rocky Gerung.

"Terkait pemulihan ekonomi nasional kita masih punya waktu sampai akhir September dalam meningkatkan daya ungkit ekonomi kita," ujar Jokowi, saat membuka rapat terbatas dengan tema laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional melalui video conference, baru-baru ini.

Diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 sebesar 2,97 persen. Sedangkan di kuartal II-2020 minus 5,32 persen. Seandainya di kuartal III-2020 ekonomi kembali minus, maka bisa dipastikan negara mengalami resesi.

Terkait hal itu, Rocky menilai, Jokowi kurang memahami apa itu resesi. Bahkan, dia menduga, orang nomor satu di Indonesia tersebut sepertinya kurang membaca.

"Kayaknya presiden memang kurang baca. Jadi sebenarnya itu hal sederhana. Apa itu resesi? Kan ada di depan mejanya, semacam catatan kecil dari tim ekonomi," ujar Rocky dikutip dari saluran Youtube pribadinya, Jumat 18 September 2020.

"Resesi itu artinya trade dan industri berhenti karena terkunci Covid-19. Saat ini, 59 negara ikutan mengepung kita, jadi enggak mungkin, Pak, kita keluar dari resesi," sambungnya.

Rocky melihat, Jokowi tidak terlalu memahami konsep-konsep dasar ekonomi. Hal itu, kata dia, tentu berbahaya bagi seorang pemimpin negara. Apalagi, menurutnya, Jokowi acap membuat kebijakan serta pernyataan yang kontradiktif.

"Jadi itu sebetulnya yang dibayangkan presiden di kepala, bahwa ekonomi pasti bertumbuh. Jadi dia enggak punya pikiran tentang apa yang harus dia dahulukan. Kan di awal kita menangkap presiden mengerti dan ingin ekonomi ditunda. Sekarang dia mau supaya enggak resesi."

" Lho, konsekuensi dari menunda ekonomi adalah resesi. Karena itu pil pahit yang harus ditelan. Nah, presiden tidak mau menelan pil. Jadi sekali lagi, itu hanya kontradiksi dalam pikiran saja sebenarnya," terangnya.

Rocky kesulitan memahami Jokowi

Pada kesempatan yang sama, Rocky mengaku kesulitan memahami pola pikir Jokowi. Sebab, ungkapannya selalu berseberangan dengan realita yang ada. Sehingga, untuk bisa memahaminya, diperlukan bantuan seorang psikolog.

"Ada halusinasi di dalam pikiran presiden, seperti (penggunaan kata) meroket, nanti kurva corona melandai, nanti ekonomi bisa tumbuh melebihi Malaysia, Singapura dan segala macam.
Jadi ada sesuatu di kepalanya yang tidak terhubung dengan realitas, dan ini menjadi tugas psikolog untuk menjelaskan mengapa (Jokowi) bisa begitu," kata dia. (ut)