Harga Emas Terus Melonjak, Diprediksi Akhir Tahun Bisa Mencapai Rp. 2 Juta/gram

EKONOMI- 10 Agustus 2020 | 11:00:18 WIB | Dubaca : 197
Harga Emas Terus Melonjak, Diprediksi Akhir Tahun Bisa Mencapai Rp. 2 Juta/gram

Harga emas yang kian berkilau di masa pandemi diprediksi akan terus melonjak. Emas saat ini menjadi komoditas yang paling menonjol lantaran kenaikan sekira Rp300 ribu. Angka terendah emas tahun ini pernah mencapai titik Rp 779.000, harga emas hari ini saja, Minggu (9/8/2020) dibanderol Rp1.033.000 per gram.

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Bhima Yudhistira memperkirakan, tren kenaikan harga emas akan terus terjadi sampai akhir tahun. Harga jual emas antam diprediksi bisa menyentuh Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta per gram.

Tren kenaikan harga emas setidaknya akan terjadi sampai ada tanda-tanda pemulihan dari resesi ekonomi. Sebab, faktor utama dinamika harga emas adalah ketidakpastian di tingkat global yang kini terjadi akibat krisis kesehatan.

Bhima menjelaskan, banyak faktor yang mempengaruhi melejitnya popularitas emas. Salah satunya, banyak orang yang ingin melakukan lindung nilai, terutama kelas menengah dan atas, pada masa krisis saat ini.

"Kita ketahui, tiap krisis, aset lindung nilai paling aman adalah emas. Tidak terkecuali sekarang," ujarnya

Faktor lain, Bhima menambahkan, banyak pihak yang menjadi spekulan karena melihat tingginya keuntungan berinvestasi emas. Tingkat keuntungannya bahkan mencapai lebih dari 40% secara tahunan (year on year/ yoy). Besarnya return tersebut melebihi imbal hasil dari Surat Berharga Negara (SBN) yang berada pada rentang enam sampai tujuh persen. Deposito pun masih berada pada level lima dolar, pun dengan valuta asing atau dolar AS.

"Jadi, emas ini masih top untuk terkait keuntungan," tutur Bhima.

Di sisi lain, Bhima menyebutkan, ada tren bank sentral di banyak negara yang mulai meningkatkan cadangan emas. Hal ini dilakukan sebagai kebijakan untuk mengantisipasi terjadinya tekanan ekonomi di kemudian hari seperti kenaikan inflasi. Kebijakan tersebut yang menyebabkan tingkat permintaan terhadap emas naik dan harga ikut terkerek naik. Faktor lain, Bhima mengatakan, tidak adanya kenaikan suplai dari emas yang cukup signifikan dalam 10 tahun terakhir.

Pasalnya, tidak ditemukan tambang emas berskala besar dalam kurun waktu tersebut. Keterbatasan ketersediaan membuat emas menjadi instrumen yang semakin diperebutkan.

Di tengah kenaikan harga emas, Bhima menekankan, para investor juga harus tetap waspada. Koreksi dalam mungkin saja terjadi ketika harga emas mencapai lebih dari Rp 1,5 juta per gram atau saat terjadi tanda-tanda pemulihan ekspektasi. "Ini harus dicermati," katanya. (tw)