Jumat, 23 Agustus 2013 - 00:36:48 WIB

Sebab Akibat dari Melemahnya Nilai Rupiah dan Menunggu Kebijakan Pemerintah

Diposting oleh : Reportase Indonesia
ReportaseIndonesia.com - Jakarta, Pergerakan nilai US Dollar dan melemahnya rupiah harus diantisipasi serius oleh BI (Bank Indonesia) dan Pemerintah.

Pemerintah tdk boleh memandang enteng melemahnya rupiah, hanya dengan permainan kata-kata seperti yang diucapkan Wapres Boediono.

Kita masih ingat melemahnya rupiah adalah titik awal krisis moneter tahun 1997 yang menghancurkan ekonomi kita, pada saat itu Pemerintah selalu katakan fundamental ekonomi kita kuat, sehingga perekonomian kita tidak mudah tergoncang oleh moneter.

Tapi nyatanya kita tidak mampu menahan goncangan akibat gejolak moneter yang dimainkan para pedagang mata uang/Valas.

Masalahnya sekarang sampai seberapa jauh BI mampu mengintervensi kenaikan dollar. Kalau cadangan devisa kian menipis, risikonya berat.

Inti masalahnya adalah investasi dalam negeri tidaklah menyentuh sektor ril. Terbanyak adalah permainan saham di pasar modal, Sementara ekspor yang kian melemah semakin menyebabkan pemasukan devisa tidak mampu dongkrak perkuatan ekonomi nasional.

Yang sangat dikhawatirkan melihat pergerakan moneter dalam sebulan terakhir ini dan dampaknya, sementara BI kelihatan tenang-tenang saja, Pemerintah malah sibuk dg isu-isu politik yg akhir ini kian menghangat.

Kita Lihat saja Paket kebijakan Perekonomian apa yang akan dikeluarkan dan dilaksanakan oleh Pemerintah, karena jika tidak tepat, maka kejadian tahun 1998 akan terulang bahkan bisa lebih parah.

Menunggu Kebijakan Pemerintah yang akan diumumkan oleh Presiden

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan Presiden siap mengumumkan paket kebijakan ekonomi, sebagai antisipasi terhadap perkembangan ekonomi terkini yang sedang mengalami gejolak.

"Presiden akan mengumumkan paket kebijakan ekonomi itu, besok (Jumat)," katanya seusai rapat koordinasi di Jakarta, Kamis.

Ikut hadir dalam rapat koordinasi tersebut adalah Menteri Keuangan Chatib Basri, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Menteri Pertanian Suswono.

Hatta enggan untuk menjelaskan secara jelas isi paket kebijakan ekonomi tersebut, namun ia memastikan paket tersebut merupakan respon atas gejolak yang terjadi di pasar keuangan, akibat pelemahan rupiah dan anjloknya bursa saham.

"Intinya adalah kita menjaga stabilitas perekonomian dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Banyak hal positif yang akan direspon oleh Presiden," ujarnya.

Menteri Keuangan Chatib Basri juga tidak mengungkapkan lebih jauh terkait paket kebijakan ekonomi yang dimaksud, namun ia menjanjikan akan menjelaskan lebih rinci seusai pengumuman Presiden.

"Setelah Presiden bicara, teknisnya pasti saya jelaskan. Pokoknya paket kebijakan ini tujuannya untuk menjaga stabilitas," kata Chatib.

Menurut rencana, draf paket kebijakan tersebut akan mengalami finalisasi di kantor Wakil Presiden pada Kamis malam, dan akan diumumkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Jumat pagi.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore, kembali ditutup melemah seiring dengan Bank Sentral AS (the Fed) yang mengindikasikan untuk mengurangi stimulus keuangan.

IHSG BEI ditutup turun 47,04 poin atau 1,11 persen ke posisi 4.171,41. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 6,66 poin (0,96 persen) ke level 689,49.

Sedangkan, mata uang rupiah masih melanjutkan pelemahan ke posisi Rp11.095 per dolar AS, atau bergerak melemah sebesar 150 poin, dibanding sebelumnya di posisi Rp10.945 per dolar AS. (Utw)
    CopyRight www.ReportaseIndonesia.com 2010-2013