Selasa, 25 September 2012 - 10:27:27 WIB

Berbagai Cara dilakukan Demi Menyukseskan Program KB

Diposting oleh : Unggul Trie Wibowo
ReportaseIndonesia.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, BKKBN, Jakarta, 23/09/2012. Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 1 miliar orang pada tahun 2100. Bahkan jumlah tersebut bisa meningkat bila tidak dikendalikan. Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus menerus menyosialisasikan program KB sabagai upaya untuk dapat mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk.

Berbagai cara telah dilakukan untuk dapat mensukseskan program KB di Indonesia baik oleh BKKBN sebagai Lembaga yang memang bertugas untuk melaksanakan program-programnya ke seluruh antero Nusantara ataupun oleh pihak-pihak tertentu yang tergerak untuk membantu mensukseskana program KB di daerahnya masing-masing.

Beberapa catatan selama perjalanan tugas kami ke berbagai daerah di Indonesia tentang orang-orang yang bertekad untuk mensukseskan program KB didaerahnya :


1. Mengarungi Lautan Untuk Program KB :Muhammad Salim Garusun (39 tahun), 1 dari 4 PLKB di kecamatan Menui Kepulauan

Di Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah ada seorang penyuluh lapangan yang harus berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya untuk mensosialisaikan KB kepada menyarakat Menui Kepulan. Kecamatan yang memiliki 19 desa terpisah menjadi pulau-pulau kecil merupakan suatu tantangan bagi Muhamad Salim Garusun (39 tahun).

Kecamatan Menui Kepulauan membutuhkan waktu 15 jam perjalanan laut dengan perahu motor untyuk mencapai Ibu Kota Kabupaten Morowali. Untuk dapat mencapai 19 desa yang di pulau terpencil jika ditempuh dengan perahu sampan bisa menghabiskan waktu setengah hari perjalanan. Namun kondisi geografis yang ada, tidak menyurutkan Salim untuk menaklukkannya demi keberhasilan program KB.

"Karena Kecamatan Menui Kepulauan terpisah dengan Kabupaten Morowali dan desa-desanya juga terpisah. Ada 19 desa bentuknya pulau-pulau kecil. Saya, kalau pakai sampan, berangkat pagi hari baru sampai sore. Kalau saya datangi semua desa, berarti menghabiskan waktu 19 hari. Jadi untuk mempersingkat harus pakai speed boat, agar bisa ditempuh 1 jam atau 30 menit dari satu desa ke desa lain" ujar Salim yang mulai menjadi PLKB sejak 2009.

Yang menjadi tantangan baginya adalah, jika musim penghujan, kondisi angin dan gelombang laut sering menjadi penghalang. Tidak ada jalan darat yang bisa dilalui di desa-desa, karena pulau-pulau nya terdiri dari gunung bebatuan. Yang sangat menyedihkan belum ada aliran listrik yang masuk ke desa-desa. Listrik hanya ada di pulau kecamatan saja.

Di kecamatan Menui Kepulauan masih ada pulau yang ditempati suku asli yaitu suku orang Bajo yaitu pulau Tiga dan Pulau Masadian. Dulu dua pulau ini yang paling susah dimasuki, karena pola pikir mereka yang masih tertinggal karena memang mereka tidak sekolah dan memang di pulau tersebut tidak ada sekolah, cerita Salim. Namun setelah dilakukan penyuluhan, mereka mulai ada yang mau berKB. Awalnya hanya pil dan suntukan, namun berkembang kesemua alat dan cara kontrasepsi.


2. Separuh Waktunya Untuk Program KB :Dr. Alferth Langitan, SpB

Hampir separuh waktunya dihabiskan untuk membantu mensuksekan program KB terutama dalam medis operatif pria (MOP) atau yang lebih dikenal dengan vasektomi. Hampir seluruh kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah pernah didatangi pria ini untuk melakukan operasi vasektomi gratis. Dr Alfreth Langitan, SpB (52 tahun) yang berdinas RSUD Undata Palu, bisa dikatakan sebagai pionir vasektomi di pulau Sulawesi.

Menurutnya, vasektomi merupakan ilmu non kurikulum yang belum tentu dikuasai semua dokter. Ia pun tak segan-segan mengajarkan ilmunya kepada dokter-dokter di kabupaten Sulawesi Tengah dan provinsi lain di Sulawesi untuk juga bisa melakukan vasektomi. Dr Alfreth juga memberikan training kepada dokter-dokter di kabupaten, dengan cara melibatkan mereka pada operasi yang ia lakukan.

Dengan training, diharapkan agar dokter-dokter daerah pun nantinya sudah bisa melakukan vasektomi sendiri di rumah sakit kabupaten, sehingga pasien tidak perlu jauh-jauh harus ke ibukota provinsi untuk melakukan vasektomi.

Menurut Alferd, Khusus untuk Sulawesi Tengah, VTP (vasektomi tanpa pisau) mulai diperkenalkan sejak tahun 2007 yaitu di Sabang kabupaten Donggala. Setelah itu segala macam kendala kita hadapi, mulai dari demografi, infrastruktur, kondisi jalan kepulauan juga waktu. Target di tahun pertama kita 150 orang, tapi realitanya lebih dari 200 hampir 300 orang untuk MOP.

Dr Alfreth pernah mendapatkan penghargaan nasional dari BKKBN untuk pioner vasektomi Sulawesi Tengah pada tahun 2010.


3. Tekad Sukseskan KB Pria, di Daerah Beltung Timur

DR. Dr. Sugiri Syarief, MPA Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (kanan) dan Dr Basuri T Purnama, SpGK, Bupati Kabupaten Belitung Timur setelah jumpa pers pada acara Puncak Bhaksos TNI-KB Kes di pantai Nyiur Melambai Belitung Timur. (3/9/2012)

Program Keluarga Berencana (KB) yang kita ketahui bersama selalu identik dengan kewajiban wanita. Tapi bila ingin jadi suami dan ayah yang baik, pria seharusnya juga ikut ber-KB. KB pria merupakan salah satu fokus dari pemerintah Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung.

Kabupaten yang terkenal dengan 'Sejuta Pelangi' atau “Negeri Laskar Pelangi” ini ingin menjadikan penduduk prianya aktif ber-KB. 'Menjadi seorang laki-laki itu mudah, tapi jadi seorang suami dan ayah yang baik itu sulit'. Istilah ini di populairkan oleh Dr Basuri T Purnama, SpGK, Bupati Kabupaten Belitung Timur kepada masyarakatnya.

Menurut Basuri, salah satu cara untuk jadi suami yang baik, ayah yang baik ya ikut ber-KB, bukan menyuruh ibunya. Bila seorang suami yang ber-KB maka istrinya tak perlu lagi repot-repot setiap bulan harus minum obat atau suntik KB. Selain itu, dengan mengatur jumlah anak artinya risiko kematian ibu saat melahirkan pun menjadi semakin kecil.

"Bila kelahirannya diatur berarti kita menurunkan risiko kematian ibu. Jadi kan kita berusaha untuk menjadi suami yang baik. Masa istrinya sudah 'dipakai' terus habis itu masih disuruh risiko mati, kan tidak lucu," lanjut Basuri.

Basuri ingin menjadikan Belitung Timur sebagai daerah yang laki-lakinya benar-benar bisa menjadi suami dan ayah yang baik dengan aktif ber-KB. Ucapannya ini terbukti dengan pencapaian peserta KB baru di Belitung Timur untuk MOP (Medis Operatif Pria) atau vasektomi sudah melebihi target hingga 433,33 persen, tertinggi untuk seluruh peserta baru KB.

Menurut Basuri, setiap peserta vasektomi di Belitung Timur akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 750 ribu serta sekarung beras. Dana yang disebut dengan 'uang tunggu' ini bahkan berasal dari APBD Kabupaten Belitung Timur sendiri. "Meskipun MOP hanya operasi kecil dan hanya membutuhkan waktu 15 menit, tapi dapur nggak ngebul di rumah. Nah, maka kita kasih Rp 750 ribu. Setelah itu 1 karung beras. Ya supaya asap dapurnya tetap ngebul. Jadi kalau dia satu dua hari merasa tidak nyaman, masih ada sekarung beras," lanjut Basuri.

Selain itu, sebagai penambah daya tarik, program vasektomi di 'Bumi Laskar Pelangi' ini juga menerapkan sistem semacam multi level marketing (MLM). "Peserta yang sudah ikut kita bikin seperti MLM. Kalau dia bisa cari 50 orang kita kasih 1 sepeda motor. Dengan kondisi ini, untuk provinsi target MOP kita sudah tercapai," tegas Basuri.

    CopyRight www.ReportaseIndonesia.com 2010-2013